Pentas Pantes Budal Jadi Instrumen Diplomasi Budaya Lokal di Bojonegoro

  • Bagikan
1000265447

Bojonegoro — Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah dengan menggelar Pantes Budal (Pentas Seni Budaya Lokal) Volume 2, Sabtu malam (4/4/2026), di Taman Rajekwesi. Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi dengan Perkumpulan Pamong Seni Budaya Bojonegoro (PPSBB), organisasi profesi yang menaungi para pelaku seni dan budaya di daerah tersebut.

Penyelenggaraan acara ini mencerminkan pendekatan strategis pemerintah daerah dalam membangun ekosistem kebudayaan yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian, tetapi juga penguatan identitas kolektif masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas, panggung seni seperti Pantes Budal berfungsi sebagai instrumen diplomasi budaya lokal yang memperkenalkan kekayaan tradisi Bojonegoro kepada publik yang lebih luas, baik secara langsung maupun melalui siaran digital.

Ragam pertunjukan yang ditampilkan memperlihatkan spektrum budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Mulai dari Tari Srampat Thengul dan Tari Thengul yang sarat nilai historis, kesenian Oklik sebagai ekspresi musikal tradisional, hingga Tari Kayangan Api yang merepresentasikan kekhasan lokal Bojonegoro. Penampilan Langen Beksan Tayub serta drama “Ensiklopedia Budaya Bojonegoro” turut memperkuat narasi kultural yang disampaikan dalam pagelaran tersebut.

Partisipasi pelajar melalui pertunjukan karawitan dari SD Kemamang dan SMP Negeri 5 Bojonegoro menjadi indikator penting adanya proses regenerasi dalam dunia seni tradisional. Keterlibatan generasi muda dinilai sebagai faktor kunci dalam menjaga kesinambungan praktik budaya di tengah tantangan modernisasi dan perubahan preferensi masyarakat.

Ketua PPSBB, Mochamad Bekti, menyatakan bahwa kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah daerah menjadi dorongan moral bagi para pelaku seni untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisi. Ia menekankan bahwa seni budaya tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga berperan sebagai media pendidikan karakter dan penguatan jati diri daerah.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Bojonegoro, Elzadeba Agustina, menegaskan bahwa program Pantes Budal akan dikembangkan sebagai agenda rutin dengan jangkauan yang lebih luas. Rencana penyelenggaraan secara bergilir di berbagai wilayah diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan seni sekaligus menciptakan ruang interaksi budaya yang lebih inklusif.

Selain pagelaran seni, momentum ini juga dimanfaatkan untuk pengukuhan PPSBB sebagai lembaga yang diharapkan mampu menjalankan fungsi kuratorial, pembinaan, serta pengembangan potensi seni budaya secara berkelanjutan. Penguatan kelembagaan dinilai penting guna memastikan tata kelola kebudayaan yang lebih terarah dan profesional.

Antusiasme masyarakat yang hadir secara langsung di lokasi maupun yang mengikuti melalui siaran daring menunjukkan bahwa seni tradisional masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah masyarakat. Fenomena ini sekaligus menjadi indikator bahwa pendekatan yang tepat dalam pengemasan dan distribusi konten budaya dapat meningkatkan apresiasi publik.

Melalui inisiatif seperti Pantes Budal, Bojonegoro tidak hanya berupaya mempertahankan warisan budayanya, tetapi juga mengartikulasikannya dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan zaman. Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menempatkan kebudayaan sebagai pilar penting pembangunan daerah yang berkelanjutan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *