MALANG – Ribuan warga dari berbagai lapisan masyarakat memadati Stadion Gajayana, Kota Malang, Selasa malam (2/6/2026), untuk mengikuti Pengajian Umum dan Doa Bersama bagi Korban Tragedi Kanjuruhan. Kegiatan yang diselenggarakan Polresta Malang Kota dalam rangka menyongsong Hari Bhayangkara ke-80 itu menjadi ruang refleksi bersama sekaligus simbol kuatnya persatuan dan kepedulian sosial masyarakat Malang Raya.
Sekitar 10.000 jamaah hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Malang Raya, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, organisasi kemasyarakatan, perwakilan Aremania, keluarga korban Tragedi Kanjuruhan, hingga masyarakat umum.
Pengajian menghadirkan pendakwah nasional Gus Iqdam yang menyampaikan tausiyah penuh pesan kemanusiaan, persatuan, dan pengabdian kepada sesama.
Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana yang juga bertindak sebagai Ketua Penyelenggara menegaskan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan kepada para korban Tragedi Kanjuruhan sekaligus wujud kepedulian terhadap masyarakat Malang Raya.
Menurutnya, doa bersama tersebut merupakan momentum untuk mengenang para korban sekaligus menghargai semangat kemanusiaan, persaudaraan, dan kebersamaan yang telah tumbuh di tengah masyarakat pascatragedi yang mengguncang bangsa itu.
“Alasan utama doa bersama ini adalah untuk para korban Tragedi Kanjuruhan dan seluruh warga Malang Raya yang telah menumbuhkan semangat kemanusiaan, kebersamaan, serta persatuan dalam menjaga kondusivitas masyarakat,” ujar Kombes Pol Putu Kholis dalam sambutannya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga didedikasikan kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, para orang tua, serta seluruh pimpinan daerah di Malang Raya yang selama ini terus menjaga harmoni sosial dan memperkuat persatuan di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Kombes Pol Putu Kholis turut memohon doa dan masukan dari masyarakat agar institusi kepolisian dapat terus melakukan perbaikan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta menjalankan tugas secara lebih profesional sesuai harapan masyarakat.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Gus Iqdam mengajak seluruh jamaah untuk mendoakan para korban Tragedi Kanjuruhan agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Ia juga memanjatkan doa agar Kota Malang senantiasa dilimpahi rahmat, kedamaian, dan keberkahan.
“Malam hari ini kita berkumpul untuk mendoakan saudara-saudara kita korban Tragedi Kanjuruhan. Semoga Kota Malang dilimpahi rahmat dan keberkahan oleh Allah SWT,” tuturnya di hadapan ribuan jamaah.
Gus Iqdam menilai kehadiran ribuan masyarakat, para ulama, tokoh masyarakat, pimpinan daerah, dan unsur keamanan dalam satu majelis doa menunjukkan bahwa rasa kepedulian dan solidaritas sosial di Malang Raya masih terjaga dengan kuat.
Pada kesempatan tersebut, Gus Iqdam juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana atas dedikasi yang ditunjukkan sejak menjabat Kapolres Malang pasca Tragedi Kanjuruhan.
Menurutnya, ketika kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian menghadapi ujian berat, Putu Kholis memilih turun langsung menemui keluarga korban untuk membangun komunikasi, mendengarkan keluhan, serta memberikan bantuan yang dibutuhkan.
Ia menilai langkah tersebut menunjukkan keberanian moral dan kepedulian kemanusiaan yang patut diapresiasi.
“Saat masyarakat masih diliputi rasa kecewa dan ketidakpercayaan, beliau hadir membangun kedekatan emosional dengan keluarga korban, mendengarkan mereka, dan berusaha membantu apa yang dibutuhkan,” ungkap Gus Iqdam.
Lebih lanjut, ia berharap semangat pengabdian dan kedekatan dengan masyarakat dapat terus dijaga di mana pun Kombes Pol Putu Kholis bertugas. Menurutnya, kehadiran pemimpin yang dekat dengan rakyat akan selalu membawa manfaat besar bagi masyarakat.
Gus Iqdam juga menyoroti pentingnya sinergi yang selama ini terbangun antara pemerintah daerah, aparat keamanan, ulama, akademisi, tokoh masyarakat, suporter, dan seluruh elemen warga Malang Raya. Ia menilai kolaborasi tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam menjaga stabilitas, keamanan, dan kemajuan daerah.
Di hadapan ribuan jamaah, Gus Iqdam menyampaikan tiga pesan moral sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Pertama, apabila seseorang belum mampu memberikan manfaat kepada orang lain, setidaknya jangan sampai merugikan atau membahayakan orang lain.
Kedua, apabila belum mampu memberikan ketenangan, jangan menjadi penyebab kesusahan bagi sesama. Ketiga, apabila tidak mampu memberikan pujian, jangan melontarkan caci maki atau ucapan yang menyakiti orang lain.
Ia menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang terletak pada sejauh mana dirinya mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Pengajian dan doa bersama yang berlangsung hingga pukul 00.20 WIB itu berlangsung dalam suasana khidmat, penuh refleksi, dan sarat pesan persatuan. Kegiatan tersebut menjadi simbol kuatnya kolaborasi antara masyarakat, tokoh agama, pemerintah daerah, dan kepolisian dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Momentum menjelang Hari Bhayangkara ke-80 itu tidak hanya menghadirkan ruang spiritual bagi masyarakat untuk mengenang para korban Tragedi Kanjuruhan, tetapi juga memperkuat kemitraan antara Polri dan masyarakat sebagai fondasi penting dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta kedamaian di Malang Raya.
Di tengah ribuan doa yang dipanjatkan malam itu, tersirat harapan bersama agar luka masa lalu dapat menjadi pelajaran berharga, sementara semangat kemanusiaan, persaudaraan, dan kebersamaan terus menjadi kekuatan utama dalam membangun masa depan Malang yang aman, damai, dan penuh keberkahan.












