Tiga Pilar Joyotakan Dorong Griyah Canting Solo Jadi Penggerak Pelestarian Batik dan Ekonomi Kreatif

  • Bagikan
IMG 20260904 WA0009

SURAKARTA — Upaya menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat potensi ekonomi kreatif di tingkat kelurahan mendapat perhatian dari tiga pilar Kelurahan Joyotakan. Babinsa Joyotakan Koramil 03 Serengan Kodim 0735 Surakarta Serma Rumbawa bersama Lurah Joyotakan Bambang Kristianto, S.T., dan Bhabinkamtibmas Aipda Fajar mengunjungi Griyah Canting Solo milik Purwanto di RT 01/RW 04, Kelurahan Joyotakan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 08.30 WIB.

Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi. Kehadiran unsur TNI, pemerintah kelurahan, dan kepolisian di sentra batik tersebut menjadi bagian dari perhatian aparat kewilayahan terhadap potensi masyarakat yang memiliki nilai budaya sekaligus peluang ekonomi.

Dalam kesempatan itu, ketiga unsur tersebut melihat secara langsung aktivitas serta perkembangan Griyah Canting Solo. Tempat tersebut dinilai memiliki peran dalam mempertahankan keberadaan batik sebagai salah satu identitas budaya Surakarta, sekaligus membuka ruang bagi berkembangnya kegiatan ekonomi kreatif di tengah masyarakat.

Serma Rumbawa mengatakan, Griyah Canting Solo merupakan salah satu potensi lokal yang layak mendapat dukungan karena tidak hanya bergerak dalam aktivitas ekonomi, tetapi juga turut menjaga keberlanjutan budaya batik di wilayah Joyotakan.

“Sebagai Babinsa bersama Lurah dan Bhabinkamtibmas, kami berkesempatan melihat secara langsung kegiatan dan perkembangan Griyah Canting Solo sebagai salah satu potensi usaha sekaligus upaya pelestarian budaya batik di wilayah Kelurahan Joyotakan,” ujar Serma Rumbawa.

Menurutnya, keberadaan Griyah Canting Solo semakin memiliki arti strategis setelah pernah mewakili Kota Surakarta dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) Awards 2026. Pencapaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa potensi budaya yang tumbuh di tingkat kelurahan dapat memiliki daya tarik yang lebih luas.

Karena itu, dukungan terhadap pelaku usaha lokal tidak semata-mata dipandang dari sisi peningkatan kegiatan ekonomi. Lebih jauh, pengembangan usaha berbasis budaya dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan karakter dan kekayaan lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Kunjungan tiga pilar Joyotakan juga menjadi bentuk kepedulian aparat kewilayahan dalam membangun komunikasi langsung dengan masyarakat. Pendekatan tersebut memungkinkan pemerintah kelurahan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas memahami perkembangan serta kebutuhan pelaku usaha secara lebih dekat.

Serma Rumbawa berharap Griyah Canting Solo dapat terus tumbuh dan mampu memperluas pengenalan budaya batik Surakarta, baik di tingkat lokal maupun di luar daerah.

“Kami berharap Griyah Canting Solo dapat terus berkembang, memperkenalkan budaya batik Surakarta secara lebih luas, serta memberikan kontribusi positif bagi kemajuan dan perekonomian masyarakat di wilayah Kelurahan Joyotakan,” tegasnya.

Bagi Joyotakan, keberadaan usaha berbasis budaya seperti Griyah Canting Solo menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dan penguatan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan. Ketika warisan budaya diberi ruang untuk berkembang dalam ekosistem ekonomi kreatif, batik tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat masa kini.

Kehadiran tiga pilar di Griyah Canting Solo menjadi gambaran bahwa pengembangan potensi lokal membutuhkan keterlibatan berbagai unsur. Sinergi antara aparat kewilayahan, pemerintah kelurahan, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan mampu menjaga agar kekayaan budaya tetap hidup sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi warga Joyotakan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *