Bojonegoro — Di tengah meningkatnya tekanan global terhadap persoalan limbah, sebuah inisiatif berbasis masyarakat di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat melampaui sekadar upaya kebersihan. Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH) hadir sebagai model inovasi yang mengintegrasikan teknologi, ekonomi, dan kesadaran lingkungan dalam satu ekosistem berkelanjutan.
Program yang dibina oleh Pertamina EP Cepu Zona 12 ini berhasil mengubah paradigma masyarakat terhadap sampah. Tidak lagi dipandang sebagai beban, limbah justru diolah menjadi sumber energi alternatif serta instrumen ekonomi yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.
Melalui pemanfaatan teknologi pirolisis, BSMKH mengolah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar setara solar. Inovasi ini menjawab persoalan klasik limbah plastik yang selama ini sulit didaur ulang secara ekonomis. “Sampah plastik yang tidak laku di pasaran kini justru menjadi energi alternatif yang bernilai,” ujar Ketua BSMKH, Ujang Surya Abdillah.
Di sisi lain, limbah organik dimanfaatkan melalui budidaya larva Black Soldier Fly (BSF). Hasilnya berupa maggot yang menjadi pakan bernutrisi tinggi bagi sektor perikanan dan peternakan lokal, sekaligus menghasilkan pupuk organik dari sisa proses penguraian.
Salah satu terobosan paling berdampak adalah program Tabungan Sampah untuk PBB yang telah berjalan sejak 2016. Melalui skema ini, warga menabung sampah yang kemudian dikonversi menjadi nilai ekonomi untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Sistem penjemputan rutin setiap dua bulan memastikan partisipasi warga tetap terjaga, sekaligus memperkuat budaya disiplin dalam memilah sampah dari rumah tangga.
Keberhasilan program ini tidak terlepas dari peran aktif kelompok perempuan dalam kader My Darling (Masyarakat Sadar Lingkungan). Mereka menjadi motor edukasi di tingkat komunitas, memastikan praktik pengelolaan sampah berjalan konsisten dari hulu.
Lebih dari sekadar program lingkungan, BSMKH telah berkembang menjadi sistem ekonomi sirkular desa. Selain menghasilkan energi alternatif, kegiatan ini turut mendukung sektor pertanian dan peternakan melalui penyediaan pupuk organik dan pakan mandiri.
Inisiatif ini menjadi bukti bahwa solusi atas persoalan global dapat lahir dari tingkat lokal. Dengan pendekatan kolaboratif dan inovasi teknologi yang tepat guna, Desa Sendangharjo memperlihatkan bahwa sampah bukan akhir dari siklus konsumsi, melainkan awal dari peluang baru yang berkelanjutan.












