Harapan Baru dari Alam Nusantara, Riset UNAIR Temukan Senyawa Antikanker Potensial

  • Bagikan
IMG 20260417 WA0032

Surabaya, Jawa Timur — Di tengah tingginya biaya pengobatan kanker dan kompleksitas pengembangan terapi modern, kabar dari dunia akademik Indonesia menghadirkan secercah harapan yang patut dicermati secara jernih. Tim peneliti dari Universitas Airlangga (UNAIR) melaporkan temuan kandidat senyawa antikanker yang berasal dari tanaman lokal bernama Flemingia macrophylla, yang selama ini belum banyak mendapat perhatian luas.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Mulyadi Tanjung dari Fakultas Sains dan Teknologi. Dalam rilis resmi kampus, tim mengidentifikasi dua senyawa baru yang diberi nama deoksihomoflemingin dan 3-hidroksiflemingin A. Kedua senyawa ini kemudian diuji pada sel kanker serviks dan kanker payudara dalam tahap uji laboratorium (in vitro), dengan hasil awal yang menunjukkan aktivitas biologis yang kuat.

Temuan ini bukan sekadar klaim tanpa dasar. Riset tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Phytochemistry Letters pada tahun 2021, yang menandakan bahwa prosesnya telah melalui mekanisme evaluasi ilmiah (peer-review). Dalam publikasi itu dijelaskan bahwa salah satu senyawa menunjukkan aktivitas sitotoksik tinggi terhadap beberapa jenis sel kanker, termasuk sel HeLa untuk kanker serviks dan T47D untuk kanker payudara.

Secara ilmiah, aktivitas sitotoksik berarti kemampuan suatu zat untuk merusak atau menghambat pertumbuhan sel tertentu. Dalam konteks ini, hasil tersebut menjadi indikator awal bahwa senyawa dari tanaman tersebut memiliki potensi sebagai kandidat terapi kanker. Namun demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih berada pada tahap awal.

Perlu dipahami, keberhasilan di tingkat laboratorium belum serta-merta dapat diterjemahkan menjadi obat yang aman dan efektif bagi manusia. Tahapan penelitian selanjutnya masih panjang, mencakup uji pada hewan (in vivo), uji klinis pada manusia, hingga evaluasi keamanan dan efektivitas secara menyeluruh.

Di sisi lain, arah penelitian ini mencerminkan pendekatan yang relevan dengan kondisi Indonesia. Ketergantungan terhadap bahan baku impor dan mahalnya biaya terapi sering kali menjadi kendala dalam sistem kesehatan. Penelitian berbasis sumber daya hayati lokal membuka peluang untuk menghadirkan solusi yang lebih terjangkau dan berkelanjutan di masa depan.

Tanaman “apa-apa” sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Secara ilmiah, tanaman ini diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, yang berperan sebagai mekanisme pertahanan alami tumbuhan. Senyawa-senyawa tersebut kerap menjadi fokus penelitian karena potensinya dalam memengaruhi proses biologis, termasuk dalam menghambat perkembangan sel kanker.

Meski demikian, para ahli mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Istilah “menjanjikan” dalam dunia riset bukan berarti siap digunakan, melainkan menunjukkan adanya dasar ilmiah yang layak untuk ditelusuri lebih lanjut.

Dengan pendekatan yang hati-hati dan berbasis bukti, temuan dari UNAIR ini menjadi salah satu contoh bagaimana riset lokal dapat berkontribusi dalam percaturan ilmu pengetahuan global. Bukan sebagai jawaban instan, melainkan sebagai langkah awal yang membuka kemungkinan baru, bahwa solusi masa depan bisa saja berakar dari kekayaan alam negeri sendiri.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *