Bojonegoro – Upaya pengendalian sampah berbasis masyarakat terus diperkuat oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui pengembangan teknologi sederhana yang aplikatif. Salah satunya adalah inovasi drum komposter yang kini dikembangkan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Banjarsari, Kecamatan Trucuk.
Program ini dirancang sebagai solusi praktis untuk mengurangi beban sampah, khususnya limbah organik rumah tangga yang selama ini mendominasi volume sampah. Dengan memanfaatkan drum plastik bekas yang dimodifikasi, masyarakat dapat mengolah sisa makanan dan limbah dapur menjadi pupuk kompos padat serta pupuk organik cair (POC).
Pengelola TPA Banjarsari, Yono, menyampaikan bahwa saat ini pengembangan drum komposter masih difokuskan pada kalangan sekolah sebagai sarana pembelajaran. Namun, ke depan diharapkan inovasi ini dapat diadopsi lebih luas oleh masyarakat.
Menurut data Satu Data Bojonegoro, tren peningkatan volume sampah terus terjadi. Pada 2025, jumlah sampah yang dikelola mencapai 47.380,36 ton per tahun, meningkat dari 45.997,80 ton pada 2024. Kondisi tersebut menjadi tantangan serius yang mendorong perlunya pendekatan baru dalam pengelolaan sampah.
Drum komposter hadir sebagai alternatif yang tidak hanya mudah diterapkan, tetapi juga ramah lingkungan. Sistem aerasi yang diterapkan memungkinkan proses penguraian berlangsung optimal tanpa menimbulkan bau. Selain itu, keran di bagian bawah drum memudahkan pengguna dalam memanen pupuk cair hasil fermentasi.
Melalui inovasi ini, masyarakat diajak memahami bahwa sampah organik memiliki nilai ekonomi dan ekologis. Hasil olahannya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman di lingkungan rumah,” jelas Yono.
Selain mengurangi volume sampah, penggunaan drum komposter juga berkontribusi dalam menekan emisi gas metana dari timbunan sampah organik di TPA. Hal ini menjadi bagian dari upaya mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Inovasi ini dinilai sangat relevan bagi kawasan permukiman padat yang memiliki keterbatasan lahan. Dengan desain yang sederhana dan biaya produksi yang relatif rendah, drum komposter dapat dibuat secara mandiri oleh masyarakat.
Pemkab Bojonegoro optimistis, jika penggunaan drum komposter diterapkan secara konsisten di tingkat lingkungan terkecil seperti RT, maka pengurangan volume sampah akan signifikan. Saat ini, masyarakat yang berkunjung ke TPA Banjarsari juga dapat mempelajari secara langsung proses pembuatan dan penggunaannya.
Ke depan, pemerintah daerah berharap inovasi ini mampu menjadi gerakan kolektif yang mengubah pola pikir masyarakat. Tidak lagi sekadar membuang sampah, tetapi mengelolanya menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Langkah ini sekaligus mempertegas komitmen Pemkab Bojonegoro dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, serta mendukung target nasional dalam pengurangan sampah melalui pendekatan partisipatif dan berkelanjutan.












