Jakarta — Persoalan klasik mengenai absennya penyerang tengah yang benar-benar tajam kembali menjadi sorotan dalam tubuh Timnas Indonesia. Hingga kini, kebutuhan akan sosok “nomor 9” yang konsisten mencetak gol masih belum terjawab secara meyakinkan, meski berbagai eksperimen telah dilakukan.
Ketergantungan terhadap Ole Romeny menjadi indikator paling nyata dari masalah tersebut. Penyerang yang tampil produktif, termasuk saat mencetak gol dalam ajang FIFA Series 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, sejauh ini belum memiliki tandem sepadan yang mampu menjaga stabilitas lini depan.
Dalam dua laga uji coba melawan Saint Kitts and Nevis serta Bulgaria, pelatih John Herdman mencoba memasangkan Ramadhan Sananta sebagai partner Romeny dalam skema 3-4-3. Namun, efektivitas duet tersebut masih jauh dari harapan. Sananta dinilai kesulitan mengimbangi ritme permainan serta penyelesaian akhir yang dibutuhkan di level internasional.
Situasi ini mempertegas bahwa lini serang tetap menjadi pekerjaan rumah utama bagi federasi, terutama menjelang agenda kompetitif yang lebih menantang. Salah satunya adalah Piala Asia 2027 yang akan berlangsung pada awal tahun mendatang di Arab Saudi—sebuah turnamen yang menuntut kedalaman skuad dan ketajaman lini depan.
Upaya mencari solusi sebenarnya telah mulai dirintis. PSSI dikabarkan tengah menjajaki opsi naturalisasi pemain keturunan yang berkarier di Eropa dan Australia. Dua nama yang mencuat adalah Dean Zandbergen dan Luke Vickery, yang diharapkan mampu menambah alternatif di sektor penyerangan.
Pengamat sepak bola nasional, Ronny Pangemanan, menilai bahwa akar persoalan terletak pada penyelesaian akhir yang belum optimal. Ia menegaskan bahwa masalah ini bukan fenomena baru, melainkan isu berulang yang belum terselesaikan secara sistematis.
Masalah utamanya tetap di finishing. Ini bukan hanya sekarang, tetapi sudah terjadi sejak lama. Federasi harus bergerak cepat untuk menemukan sosok striker nomor 9 yang ideal,” ujar Pangemanan.
Ia juga menyoroti bahwa opsi yang ada saat ini, termasuk Sananta maupun Mauro Zijlstra, belum cukup untuk menjadi tumpuan utama di lini depan. Meski Zijlstra sempat mencetak gol dalam FIFA Series, konsistensi dan kualitas di level lebih tinggi masih perlu dibuktikan.
Dengan waktu yang semakin terbatas menuju Piala Asia 2027, kebutuhan akan penyerang tengah yang memiliki kapasitas setara dengan Romeny menjadi semakin mendesak. Kehadiran striker yang tidak hanya tajam, tetapi juga mampu beradaptasi dengan skema permainan modern, akan menjadi faktor krusial dalam meningkatkan daya saing Timnas Indonesia di panggung Asia.
Evaluasi menyeluruh terhadap lini serang pun menjadi agenda prioritas. Tanpa solusi konkret, ambisi untuk melangkah lebih jauh di turnamen besar berpotensi kembali terhambat oleh persoalan yang sama, ketajaman yang belum menemukan ujungnya.












