BOYOLALI — Memasuki periode musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), upaya pencegahan di kawasan lereng Gunung Merapi diperkuat melalui patroli bersama antara aparat kewilayahan dan petugas Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).
Babinsa Koramil 07/Selo Kodim 0724/Boyolali, Serma Maryono dan Serka Sumanto, bersama petugas TNGM melaksanakan patroli pengendalian kebakaran hutan di wilayah Resort Pengelolaan Taman Nasional Musuk-Cepogo, Jumat (4/9/2026).
Patroli menyusuri jalur Dukuh Ngaliyan, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali. Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi pemantauan rutin, tetapi juga bagian dari langkah preventif untuk mengenali lebih awal kawasan yang memiliki potensi rawan kebakaran sekaligus memastikan akses menuju kawasan hutan tetap dapat dilalui dalam kondisi darurat.
Pemetaan jalur dan titik rawan menjadi penting mengingat medan kawasan lereng Merapi memiliki karakteristik geografis yang dapat menyulitkan mobilitas ketika terjadi kebakaran. Dengan mengetahui jalur akses sejak dini, petugas diharapkan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai rute yang dapat digunakan untuk mendukung proses penanganan maupun evakuasi apabila kebakaran terjadi.
Di sepanjang jalur patroli, tim juga meningkatkan pengawasan terhadap kondisi kawasan hutan serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan konservasi. Warga, relawan, dan unsur terkait diharapkan tidak hanya menjadi pihak yang menerima imbauan, tetapi turut berperan sebagai mata dan telinga dalam mendeteksi gejala awal kebakaran.
Koordinasi lintas unsur juga menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Setiap indikasi kebakaran maupun kondisi yang berpotensi memicu kebakaran diharapkan segera dilaporkan kepada aparat dan instansi terkait agar dapat ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Selain memantau potensi karhutla, tim patroli melakukan pengecekan terhadap patok batas kawasan Gunung Merapi dengan lahan milik warga. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan batas kawasan konservasi tetap terlihat dan terjaga dengan baik.
Kejelasan batas kawasan menjadi bagian dari upaya perlindungan hutan karena dapat membantu mencegah terjadinya aktivitas masyarakat yang berpotensi memasuki atau mengganggu wilayah konservasi. Pengawasan tersebut sekaligus memperkuat kepastian mengenai ruang kelola antara kawasan taman nasional dan lahan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, petugas juga mengingatkan warga agar ikut menjaga serta merawat tanaman dan lingkungan di kawasan Gunung Merapi. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama terhadap aktivitas yang berpotensi menimbulkan sumber api.
Petugas menekankan pentingnya pelaporan sedini mungkin apabila ditemukan kebakaran atau tanda-tanda bencana alam lainnya. Informasi yang disampaikan secara cepat kepada aparat maupun dinas terkait dinilai dapat mempercepat pengambilan tindakan dan mencegah dampak yang lebih besar.
Patroli bersama tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari strategi pencegahan yang menempatkan kesiapsiagaan, pemetaan, pengawasan kawasan, dan partisipasi masyarakat sebagai satu kesatuan. Di tengah meningkatnya ancaman kebakaran pada musim kemarau, perlindungan kawasan lereng Merapi tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas, tetapi juga pada kesadaran bersama untuk menjaga hutan sebelum api muncul.












