DWP Bojonegoro Perkuat Peran Perempuan dalam Kesiapsiagaan Bencana

  • Bagikan
T36iTV0Ott0eGC8G

BOJONEGORO — Peran perempuan dalam menghadapi situasi kebencanaan tidak lagi dapat dipandang sebatas pendamping keluarga. Di tengah risiko bencana yang dapat datang tanpa peringatan, kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat, melakukan evakuasi, hingga memberikan pertolongan pertama menjadi bagian penting dari ketangguhan keluarga.

Kesadaran tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Zoom Meeting bertema “Srikandi Tangguh Bencana” yang diselenggarakan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat bersama DWP Provinsi Jawa Timur, Jumat (4/9/2026).

DWP Kabupaten Bojonegoro mengikuti kegiatan tersebut secara virtual dari Ruang Command Center, Gedung Pusat Informasi Publik (PIP), Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan diikuti jajaran pengurus DWP Kabupaten Bojonegoro serta anggota dari sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas perempuan, khususnya anggota DWP, agar memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi berbagai kondisi darurat. Bencana tidak hanya membutuhkan respons dari pemerintah dan petugas penyelamat, tetapi juga kesiapan masyarakat di tingkat keluarga.

Ketua Umum DWP Pusat, Ida Budi Gunadi Sadikin, dalam sambutannya secara virtual mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang turut melibatkan jajaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Ia mengajak seluruh peserta menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum untuk membangun organisasi yang semakin tangguh dan memiliki kepedulian terhadap persoalan kebencanaan.

“Saya senang acara ini turut dihadiri oleh jajaran dari BNPB. Kepada seluruh peserta bimtek Srikandi Tangguh se-Indonesia, mari kita jadikan ini momentum untuk memperkuat DWP Tangguh Bencana,” ujar Ida.

Dalam paparannya, Ida juga menyoroti aksi sosial DWP Pusat dalam membantu masyarakat di sejumlah wilayah yang terdampak bencana. Dukungan tersebut, antara lain, diberikan untuk daerah seperti Garut, Bandung, hingga sejumlah wilayah di Sumatera.

Menurut Ida, kepedulian tersebut menjadi bagian dari komitmen DWP untuk tidak berhenti pada kegiatan organisasi, tetapi juga hadir ketika masyarakat menghadapi situasi sulit.

Ia menyebut donasi yang berhasil dihimpun DWP Pusat mencapai Rp1,3 miliar. Sementara khusus untuk bantuan bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT), dana yang terkumpul telah mencapai Rp1,1 miliar dan terus disalurkan.

“Alhamdulillah, donasi yang berhasil kita kumpulkan mencapai Rp1,3 miliar. Khusus untuk bantuan ke NTT, saat ini sudah terkumpul Rp1,1 miliar dan terus kita salurkan untuk membantu saudara-saudara kita di sana,” katanya.

Materi bimtek tidak berhenti pada aspek kepedulian sosial. Para peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai langkah-langkah praktis menghadapi bencana, mulai dari prosedur evakuasi, pertolongan pertama, pengelolaan logistik hingga komunikasi dalam kondisi darurat.

Materi tersebut menempatkan keluarga sebagai salah satu titik awal dalam membangun kesiapsiagaan bencana. Pengetahuan dasar yang dimiliki anggota keluarga dapat menentukan seberapa cepat dan tepat sebuah rumah tangga merespons ketika bencana terjadi.

Dalam kegiatan tersebut ditekankan bahwa perempuan memiliki posisi strategis karena banyak aktivitas pengelolaan keluarga berada di tangan ibu.

“Perempuan adalah garda terdepan di rumah. Kelompok rentan yang paling terdampak saat bencana adalah anak-anak, ibu, dan orang tua. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui tindakan yang tepat dan cepat ketika bencana terjadi,” tegas pemateri.

Pesan tersebut sekaligus memperluas perspektif mengenai mitigasi bencana. Kesiapsiagaan bukan semata persoalan peralatan maupun prosedur evakuasi, melainkan juga kemampuan setiap keluarga untuk memahami risiko, menentukan tindakan dan melindungi anggota keluarga yang berada dalam kondisi paling rentan.

Mewakili Ketua DWP Kabupaten Bojonegoro, Lisa Chusaivi Ivan mengatakan kegiatan tersebut turut diikuti perwakilan DWP dari PDAM, Dinas Kominfo dan Dinpora.

Menurut Lisa, pembekalan mengenai kebencanaan penting bagi perempuan karena kondisi darurat dapat terjadi kapan saja, termasuk ketika salah satu anggota keluarga yang selama ini menjadi tumpuan perlindungan tidak berada di rumah.

Ia menilai seorang ibu perlu memiliki ketangguhan sekaligus kecekatan untuk mengambil langkah awal ketika menghadapi keadaan yang tidak terduga.

“Melalui kegiatan ini, para wanita diharapkan dapat tangguh dan siap menghadapi bencana yang datang tiba-tiba. Ibu-ibu dituntut untuk selalu sigap mendampingi serta melindungi keluarga dan anak-anak, terutama saat bencana terjadi di kala sosok ayah tidak sedang berada di rumah,” ungkap Lisa.

Bagi DWP Kabupaten Bojonegoro, keterlibatan dalam kegiatan “Srikandi Tangguh Bencana” diharapkan tidak berhenti sebagai agenda pembekalan. Pengetahuan yang diperoleh dapat diteruskan ke lingkungan keluarga dan masyarakat sehingga kesadaran terhadap risiko bencana tumbuh dari lingkup paling kecil.

Upaya tersebut menjadi penting bagi daerah yang memiliki potensi menghadapi berbagai jenis bencana. Dengan keluarga yang lebih memahami langkah mitigasi, evakuasi dan pertolongan awal, respons terhadap situasi darurat diharapkan menjadi lebih cepat dan terarah.

Pada akhirnya, ketangguhan menghadapi bencana bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat bantuan datang, tetapi juga oleh seberapa siap masyarakat menghadapi menit-menit pertama ketika keadaan darurat terjadi.

Melalui penguatan kapasitas perempuan, DWP Kabupaten Bojonegoro berupaya mendorong terbentuknya keluarga yang lebih sadar risiko, sigap mengambil tindakan dan mampu menjadi bagian dari sistem perlindungan masyarakat ketika bencana datang secara tiba-tiba.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *