MALANG KOTA — Tantangan yang dihadapi institusi kepolisian di era modern tidak lagi sebatas penegakan hukum dan pemeliharaan keamanan. Perkembangan teknologi, dinamika sosial, serta meningkatnya ekspektasi publik menuntut hadirnya sosok polisi yang tidak hanya profesional, tetapi juga memiliki empati, kemampuan komunikasi, serta kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Semangat itulah yang menjadi fokus dalam kegiatan Latihan Kerja (Latja) 14 Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tingkat III Angkatan 58 Batalyon “Ksatriya Hawin Sarawahita” Jawa Timur yang berlangsung di Balai RW 09, Jalan Basuki Rahmat Gang 8, Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Minggu (7/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana, Pengamat Kepolisian Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto, aktivis masyarakat Mohammad Rafi Azzamy, jajaran pejabat utama Polresta Malang Kota, tokoh masyarakat, hingga warga setempat.
Berbeda dengan metode pembelajaran konvensional di ruang kelas, para taruna menjalani program live in yang memungkinkan mereka berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Melalui dialog, diskusi kelompok, serta kunjungan lingkungan, para calon perwira Polri diajak memahami secara nyata berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah kehidupan warga.
Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana menegaskan bahwa pengalaman lapangan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter kepemimpinan seorang anggota Polri. Menurutnya, keberhasilan seorang perwira tidak hanya ditentukan oleh penguasaan aturan dan prosedur, tetapi juga oleh kemampuan memahami kondisi sosial masyarakat yang dilayaninya.
Ia menjelaskan bahwa tugas kepolisian pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum semata. Lebih dari itu, seorang polisi harus mampu membaca situasi, membangun kepercayaan publik, serta menjamin perlindungan hak-hak masyarakat melalui pendekatan yang humanis.
“Polisi masa depan harus hadir sebagai problem solver yang mampu memahami kebutuhan masyarakat secara langsung. Kemampuan berkomunikasi, memahami karakter masyarakat, serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat menjadi kompetensi yang sangat penting,” ujar Kombes Pol Putu.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolresta juga membagikan pengalamannya saat memimpin Polres Malang dalam masa penanganan pasca Tragedi Kanjuruhan. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kepemimpinan yang mampu mengambil keputusan di tengah situasi yang kompleks dan penuh tekanan.
Ia menekankan bahwa meskipun Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan fondasi utama dalam pelaksanaan tugas kepolisian, terdapat aspek kemanusiaan yang harus selalu menjadi pertimbangan dalam setiap tindakan.
“SOP adalah dasar yang sangat penting, tetapi di atas itu terdapat nilai-nilai kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan. Empati serta penghormatan terhadap hak asasi manusia harus menjadi bagian dari setiap keputusan yang diambil,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kombes Putu menyoroti tantangan kepolisian di masa depan yang diperkirakan akan semakin kompleks seiring percepatan transformasi digital dan perubahan perilaku sosial masyarakat. Oleh karena itu, Polri dituntut untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk akademisi, mahasiswa, tokoh masyarakat, serta memanfaatkan perkembangan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) guna meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Pandangan serupa disampaikan Pengamat Kepolisian ISESS Bambang Rukminto. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya membangun paradigma kepolisian yang berorientasi pada kepentingan masyarakat dan menjunjung tinggi pendekatan humanis.
Menurut Bambang, berbagai situasi di lapangan kerap menghadirkan tantangan yang tidak selalu dapat dijawab secara tekstual melalui teori maupun prosedur yang dipelajari selama pendidikan. Oleh sebab itu, calon pemimpin Polri harus memiliki kemampuan berpikir kritis, integritas yang kuat, serta kemampuan membaca konteks sosial secara komprehensif.
Ia juga mengingatkan bahwa proses reformasi institusi kepolisian masih terus berlangsung dan membutuhkan generasi pemimpin baru yang memiliki wawasan luas, profesionalisme tinggi, serta kedekatan dengan masyarakat sebagai fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik.
Sementara itu, Ketua RW 09 Kelurahan Oro-Oro Dowo, Rachman Wahyudi, yang mewakili masyarakat setempat menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan Latja yang melibatkan warga secara langsung.
Menurutnya, kehadiran para taruna di tengah masyarakat memberikan kesempatan bagi calon perwira Polri untuk memahami realitas kehidupan warga yang sering kali memiliki kompleksitas tersendiri.
“Masyarakat berharap para taruna kelak menjadi pemimpin Polri yang memahami kondisi nyata di lapangan, tidak hanya berpegang pada teori, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa institusi kepolisian idealnya tidak dipandang sebagai sosok yang berjarak dengan masyarakat. Sebaliknya, polisi harus hadir sebagai mitra yang dapat diajak berdialog, bekerja sama, dan mencari solusi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi warga.
Pelaksanaan Latja Taruna Akpol di Kota Malang menjadi cerminan pendekatan pendidikan kepolisian yang semakin adaptif terhadap perkembangan zaman. Proses pembelajaran tidak lagi terbatas pada ruang akademik, melainkan diperkaya melalui interaksi langsung dengan masyarakat sebagai laboratorium sosial yang sesungguhnya.
Melalui pengalaman tersebut, para taruna diharapkan mampu membangun pemahaman yang lebih utuh terhadap realitas sosial, memperkuat empati, serta menumbuhkan kapasitas kepemimpinan yang profesional, humanis, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan kepolisian tidak hanya diukur dari kemampuan teknis para calon perwira, tetapi juga dari sejauh mana mereka mampu membangun kepercayaan publik dan menghadirkan rasa aman melalui pendekatan yang berkeadilan, berintegritas, dan berorientasi pada kemanusiaan.












