Bukan Sekadar Menunggu Bantuan, Lima Desa di Kedungadem Didorong Mandiri Hadapi Bencana

  • Bagikan
IMG 20260811 WA0185

BOJONEGORO – Ketangguhan sebuah desa dalam menghadapi bencana tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat bantuan datang, tetapi juga oleh seberapa siap masyarakat menghadapi ancaman sejak detik pertama. Prinsip tersebut menjadi salah satu pijakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam memperkuat program Desa Tangguh Bencana (Destana) di Kecamatan Kedungadem.

Lima desa, yakni Kepohkidul, Geger, Babadkidul, Duwel, dan Pejok, menjadi sasaran penguatan kapasitas masyarakat melalui program Destana yang berlangsung pada 10–13 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut melibatkan fasilitator dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur. Masyarakat dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi ancaman bencana, mulai dari kajian risiko, pemetaan wilayah rawan, kesiapsiagaan, penyusunan rencana kontingensi hingga penguatan kelembagaan di tingkat desa.

Pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada pengenalan terhadap jenis-jenis bencana. Masyarakat diarahkan untuk mampu membaca kondisi lingkungan, mengenali potensi ancaman, menentukan langkah pengurangan risiko, serta memahami tindakan yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menegaskan bahwa bencana tidak mengenal waktu. Karena itu, kesiapsiagaan tidak boleh dibangun setelah bencana terjadi.

“Bencana itu kita tidak tahu kapan datangnya, tapi bisa dimitigasi,” ujar Setyo Wahono, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, setiap desa memiliki karakteristik wilayah dan potensi ancaman yang berbeda. Kondisi tersebut membuat strategi mitigasi harus disusun berdasarkan kebutuhan masing-masing desa.

Pemetaan menjadi tahap penting untuk mengetahui ancaman yang paling mungkin terjadi. Dari sana, desa dapat menentukan kebutuhan pelatihan, sistem peringatan dini, langkah evakuasi, hingga pola koordinasi dengan berbagai pihak.

“Mitigasinya yang penting, makanya nanti diinventarisir kira-kira potensinya apa, setelah itu pelatihannya apa, kemudian koordinasinya harus dengan siapa,” jelasnya.

Ancaman seperti angin kencang, puting beliung, kekeringan, hingga kebakaran membutuhkan kesiapan yang berbeda. Pada musim kemarau, misalnya, risiko kebakaran perlu mendapatkan perhatian khusus karena kondisi lingkungan yang kering dapat mempercepat penyebaran api.

Kewaspadaan terhadap kebakaran menjadi semakin penting mengingat tingginya kejadian kebakaran di Bojonegoro.

Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, menyampaikan bahwa sepanjang Januari hingga Agustus 2026 telah tercatat 234 kejadian kebakaran di wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pencegahan tidak dapat hanya mengandalkan respons petugas ketika api telah membesar. Kesadaran dan tindakan masyarakat sejak awal menjadi bagian penting dalam memutus potensi kebakaran.

Masyarakat diimbau tidak membakar sampah, rumput, maupun bambu secara sembarangan. Jika aktivitas pembakaran tidak dapat dihindari, pengawasan harus dilakukan secara ketat dan memastikan kondisi sekitar aman.

“Jika pembakaran tidak dapat dihindari, pengawasan harus dilakukan secara ketat agar api tidak merembet dan memicu kebakaran yang lebih besar,” ungkap Heru.

Bagi Pemkab Bojonegoro, Destana bukan program yang selesai ketika pelatihan berakhir. Kelembagaan yang terbentuk harus terus berjalan dan menjadi bagian dari sistem pemerintahan serta kehidupan masyarakat desa.

Setyo Wahono meminta setiap desa memiliki kelembagaan kebencanaan yang jelas dan didukung regulasi. Keberadaan struktur tersebut penting agar pembagian peran dan mekanisme penanganan dapat berjalan ketika bencana terjadi.

“Pastikan di tiap-tiap desa itu ada kelembagaannya. Jangan sampai nanti tidak ada regulasinya. Setelah itu peran aktif masyarakat harus dibangun,” tegasnya.

Koordinasi antara pemerintah desa, BPBD, relawan, tenaga medis, masyarakat, dan unsur terkait lainnya juga harus dibangun sebelum situasi darurat terjadi.

Dengan koordinasi yang telah dipersiapkan sebelumnya, setiap unsur diharapkan mengetahui apa yang harus dilakukan, siapa yang bertanggung jawab, dan ke mana informasi harus disampaikan ketika bencana terjadi.

Program Destana juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas aparatur desa, relawan, dan masyarakat melalui kajian risiko, penyusunan rencana penanggulangan bencana, rencana kontingensi, serta aksi pengurangan risiko.

Masyarakat didorong untuk melakukan simulasi dan latihan agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai teori. Dalam keadaan darurat, kemampuan mengambil keputusan secara cepat dan tepat dapat menjadi faktor penting dalam menyelamatkan warga.

Pada akhirnya, konsep Desa Tangguh Bencana menempatkan masyarakat sebagai kekuatan utama dalam menghadapi ancaman di wilayahnya sendiri.

Desa diharapkan tidak hanya menjadi penerima bantuan ketika bencana terjadi, tetapi mampu menjadi garda terdepan dalam mengenali ancaman, mengurangi risiko, memberikan respons awal, dan melindungi masyarakat.

Bagi Bojonegoro, membangun ketangguhan berarti mempersiapkan masyarakat sebelum bencana datang. Sebab ketika keadaan darurat terjadi, waktu sering kali menjadi faktor yang tidak bisa ditawar.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *