BOJONEGORO – Batik Bojonegoro tengah memasuki babak baru. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk membangun fondasi akademis bagi pengembangan batik daerah.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya menata kembali identitas Batik Bojonegoro agar memiliki pijakan yang lebih kuat, baik dari sisi visual, filosofi maupun pengembangan sumber daya manusia para perajinnya.
Tidak hanya berbicara mengenai motif dan desain, kajian yang disiapkan juga diarahkan untuk menggali nilai-nilai budaya yang melekat pada setiap karya. Dengan demikian, batik yang lahir dari Bojonegoro diharapkan memiliki karakter yang jelas sekaligus mampu menjelaskan cerita tentang daerah asalnya.
Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, mengatakan penyusunan kajian akademis tersebut merupakan langkah awal untuk membangun identitas Batik Bojonegoro secara lebih terarah.
“Ini baru langkah awal untuk menyusun kajian secara akademis mengenai Batik Bojonegoro. Kajian tersebut meliputi penguatan identitas visual hingga penyusunan filosofi pada masing-masing motif batik yang ada,” ujarnya.
Bagi Dekranasda, penguatan identitas menjadi penting di tengah perkembangan industri batik yang semakin dinamis. Kreativitas para perajin perlu terus tumbuh, namun pada saat yang sama tetap berpijak pada karakter budaya daerah.
Saat ini terdapat sekitar 40 perajin batik di Bojonegoro yang menghasilkan beragam karya dengan ciri khas masing-masing. Keragaman tersebut menjadi modal besar untuk pengembangan industri batik, sekaligus menjadi alasan perlunya sebuah rujukan bersama.
Karena itu, kajian yang dilakukan bersama ISI Surakarta diharapkan dapat melahirkan pijakan yang memungkinkan para perajin mengembangkan motif baru tanpa kehilangan karakter dasar Batik Bojonegoro.
Pengembangan Batik Bojonegoro juga tidak akan berhenti pada penyusunan dokumen atau inventarisasi motif.
Cantika menegaskan, peningkatan kapasitas para perajin menjadi salah satu tujuan penting dari kolaborasi tersebut. Pelatihan, pendampingan, kurasi desain dan berbagai bentuk pengembangan lainnya diharapkan dapat membuka ruang bagi para perajin untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas daya saing.
“Harapan kami sangat besar, terutama untuk peningkatan kapasitas para pengrajin batik di Bojonegoro. Mudah-mudahan mereka dapat memperoleh pelatihan, pendampingan, hingga proses kurasi desain maupun bentuk pengembangan lainnya yang akan memperkuat daya saing batik Bojonegoro,” tambahnya.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan batik tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada peningkatan kualitas manusia yang berada di balik setiap lembar kain.
Gagasan mengenai pentingnya motif pakem sebelumnya telah menjadi perhatian para perajin batik Bojonegoro.
Salah seorang perajin, Lukdianto, mengatakan kunjungan bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro ke ISI Surakarta pada Selasa (4/8/2026) merupakan tindak lanjut atas aspirasi para perajin untuk memiliki acuan motif yang dapat merepresentasikan identitas Batik Bojonegoro.
“Harapan kami, motif pakem Batik Bojonegoro nantinya dapat menjadi acuan dan selalu dimunculkan dalam setiap pengembangan motif-motif baru yang dihasilkan oleh para perajin batik di Bojonegoro,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan motif pakem diharapkan dapat menjadi titik temu antara tradisi dan inovasi. Para perajin tetap dapat menciptakan desain baru, tetapi tidak tercerabut dari identitas yang menjadi ciri khas daerah.
Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, melihat Bojonegoro memiliki kekayaan kearifan lokal yang potensial untuk dikembangkan menjadi sumber inspirasi seni.
Kekayaan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bentuk visual, termasuk motif batik, sehingga identitas daerah tidak berhenti sebagai simbol, tetapi dapat hadir dalam karya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Bojonegoro memiliki kearifan lokal yang dapat diterjemahkan dalam bentuk visual pada motif batik maupun karya seni lainnya. Dengan demikian, identitas Bojonegoro tidak hanya melekat secara visual, tetapi juga hidup dalam budaya keseharian masyarakat,” jelasnya.
Pandangan tersebut memperluas makna batik sebagai produk budaya. Setiap motif dapat menjadi medium untuk membawa cerita tentang lingkungan, sejarah, tradisi dan kehidupan masyarakat kepada khalayak yang lebih luas.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi dan perajin tersebut menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem Batik Bojonegoro yang lebih kokoh.
Pemerintah memiliki peran dalam menciptakan kebijakan dan dukungan pengembangan. Perguruan tinggi memberikan pendekatan akademis dan keilmuan, sementara para perajin menjadi penggerak utama yang menerjemahkan identitas budaya ke dalam karya.
Jika proses tersebut berjalan konsisten, Batik Bojonegoro tidak hanya memiliki motif yang kuat secara visual, tetapi juga mempunyai narasi dan filosofi yang mampu memperkuat posisinya sebagai produk budaya.
Pada akhirnya, tujuan pengembangan Batik Bojonegoro bukan sekadar memperbanyak produksi atau menciptakan desain baru. Lebih jauh, upaya tersebut adalah bagaimana sebuah daerah menjaga warisan budayanya sekaligus menjadikannya relevan dengan perkembangan zaman.
Batik Bojonegoro diharapkan mampu tumbuh dengan wajah yang semakin kuat: tetap berakar pada kearifan lokal, terbuka terhadap inovasi, dan memiliki kualitas untuk menembus pasar nasional hingga internasional.












