BOJONEGORO – Tembakau kembali menjadi salah satu komoditas yang menarik perhatian petani di Kabupaten Bojonegoro. Hingga Agustus 2026, luas tanam tembakau telah mencapai 15.672,68 hektare, meningkat signifikan dibandingkan realisasi tahun 2025 yang tercatat 12.041 hektare. Di saat yang sama, harga jual tembakau di tingkat petani juga masih berada pada level yang relatif tinggi.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkoordinator Tanaman Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Bambang Wahyudi, menyebut kondisi iklim menjadi salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan luas tanam tembakau pada tahun ini.
“Untuk tahun 2026 sampai hari ini luas tanam tembakau mencapai 15.672,68 hektare. Ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 12.041 hektare,” ujar Bambang.
Ia menjelaskan, perubahan luas tanam tembakau dari tahun ke tahun sangat berkaitan dengan kondisi iklim. Cuaca menjadi salah satu pertimbangan petani dalam menentukan komoditas yang dinilai paling sesuai untuk dibudidayakan pada suatu musim tanam.
Selain peningkatan luas tanam, perkembangan harga juga memberikan angin segar bagi petani. Saat ini, tembakau rajangan di tingkat petani berada pada kisaran Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram, dengan besaran harga yang bergantung pada kualitas tembakau.
Gambaran tersebut terlihat dari pengalaman Sukro, petani tembakau asal Desa Sitiaji, Kecamatan Sukosewu. Ia mengaku cukup lega melihat harga tembakau yang diterimanya saat ini. Untuk daun basah, harga berada di kisaran Rp2.000 hingga Rp4.000 per kilogram, sedangkan tembakau rajangan kering mencapai Rp45.000 hingga Rp48.000 per kilogram.
Menurut Sukro, harga tersebut menjadi dorongan tersendiri bagi petani untuk mempertahankan dan mengembangkan budidaya tembakau. Namun, ia berharap tingginya harga hasil panen dapat berjalan beriringan dengan kemudahan memperoleh sarana produksi, khususnya pupuk.
“Alhamdulillah, kami merasa senang dengan harga tembakau saat ini yang mencapai Rp45.000. Semoga ke depan pupuk semakin mudah didapat dengan harga yang lebih terjangkau,” ungkapnya.
Harapan petani tidak berhenti pada harga yang berlaku saat ini. Mereka juga menaruh perhatian pada kondisi pasar ketika panen raya tiba. Sebab, peningkatan produksi akan memberikan manfaat lebih besar apabila harga tetap mampu mengimbangi biaya produksi yang telah dikeluarkan.
“Kami juga berharap saat panen raya nanti harga tembakau tetap bagus, sehingga petani bisa mendapatkan hasil yang sepadan dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan,” kata Sukro.
Meningkatnya luas tanam dan relatif baiknya harga tembakau menjadi momentum penting bagi sektor perkebunan Bojonegoro. Tren tersebut menunjukkan adanya optimisme di kalangan petani, sekaligus membuka peluang bagi komoditas tembakau untuk kembali memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar di wilayah sentra produksi.
Namun, keberlanjutan usaha tani tetap membutuhkan dukungan yang konsisten. Ketersediaan pupuk dan sarana produksi dengan harga terjangkau, kondisi iklim yang mendukung, serta kepastian harga ketika panen raya menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan sejauh mana momentum positif tersebut dapat dipertahankan.
Jika dukungan tersebut dapat terjaga, peningkatan luas tanam tidak hanya akan tercermin dalam bertambahnya produksi, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani tembakau di Kabupaten Bojonegoro.












