BOJONEGORO — Ada cara berbeda yang ditempuh Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) Bojonegoro untuk membangun kebersamaan sekaligus membicarakan arah organisasi. Pada Senin (31/8/2026), jajaran pengurus memilih kawasan Gunung Lawu sebagai tempat untuk menggelar rapat.
Keputusan tersebut tidak sekadar didasarkan pada pertimbangan suasana. Gunung Lawu dipilih karena memiliki latar sejarah dan filosofi yang dinilai relevan dengan semangat organisasi: ketenangan dalam mengambil keputusan, keteguhan dalam menjalankan prinsip, serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan.
Ketua PJI Bojonegoro, Syamsul Anam, mengatakan Gunung Lawu memiliki daya tarik tersendiri karena sejarah dan nilai filosofis yang melekat di dalamnya.
Menurut Syamsul, kawasan Gunung Lawu juga dikenal memiliki energi yang luar biasa. Dalam sejumlah kisah yang berkembang di masyarakat, gunung tersebut memiliki keterkaitan dengan Prabu Brawijaya V yang disebut pernah melakukan pertapaan di kawasan Lawu.
“Kenapa rapat kali ini di Gunung Lawu, karena penuh dengan filosofi, energi yang luar biasa dan di sanalah salah satu tempat pertapaan Prabu Brawijaya V,” ujar Syamsul.
Suasana pegunungan yang relatif tenang memberikan ruang bagi jajaran pengurus untuk keluar sejenak dari rutinitas. Pembahasan organisasi dilakukan dalam atmosfer yang lebih cair, memungkinkan komunikasi berlangsung secara terbuka sekaligus memberikan kesempatan untuk melihat kembali perjalanan organisasi.
Rapat tersebut membahas berbagai hal berkaitan dengan kepentingan internal organisasi serta langkah PJI Bojonegoro ke depan. Namun, pertemuan itu juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antarpengurus dan membangun kembali kesamaan visi.
Wakil Ketua PJI Bojonegoro, Bambang Setyawan, mengatakan suasana Gunung Lawu memberikan perspektif berbeda dalam proses komunikasi organisasi.
“Rapat di Gunung Lawu memberikan suasana yang berbeda dan lebih tenang. Kami bisa berdiskusi dengan lebih terbuka, sekaligus menyatukan kembali visi dan langkah organisasi ke depan,” ujarnya.
Bagi Bambang, suasana yang jauh dari hiruk-pikuk rutinitas memberikan kesempatan bagi pengurus untuk lebih fokus pada persoalan yang sedang dibahas. Perbedaan pandangan dapat ditempatkan sebagai bagian dari dinamika organisasi yang perlu dikelola melalui komunikasi dan dialog.
Sementara itu, Penasehat PJI Bojonegoro, Sutrisno atau Mbah Alex, melihat Gunung Lawu dari perspektif yang lebih filosofis.
Ia menilai ketenangan, keteguhan dan kebersamaan merupakan nilai yang dapat menjadi refleksi bagi jajaran PJI Bojonegoro dalam menjalankan organisasi maupun profesi jurnalistik.
“Gunung Lawu mengajarkan kita tentang ketenangan, keteguhan dan kebersamaan. Nilai-nilai itu penting untuk menjadi landasan PJI Bojonegoro dalam menjalankan tugas serta menjaga marwah organisasi,” kata Sutrisno.
Pertemuan di Gunung Lawu pada akhirnya tidak berhenti pada agenda rapat semata. Di balik pembahasan organisasi, terdapat upaya untuk mempererat hubungan personal antarpengurus sekaligus membangun fondasi komunikasi yang lebih kuat.
Bagi sebuah organisasi profesi, soliditas bukan hanya dibangun melalui keputusan formal. Ia juga tumbuh dari komunikasi yang sehat, rasa saling percaya dan kesediaan untuk berjalan dalam satu arah.
Karena itu, Gunung Lawu menjadi bagian dari perjalanan PJI Bojonegoro untuk menata kembali langkah organisasi. Di tengah lanskap alam dan jejak sejarah yang panjang, para pengurus membawa satu pesan: organisasi membutuhkan ketenangan untuk berpikir, keteguhan untuk menjalankan prinsip, dan kebersamaan untuk menghadapi masa depan.
Dari lereng Lawu, PJI Bojonegoro berharap semangat tersebut dapat dibawa kembali ke ruang kerja jurnalistik, menjadi energi baru untuk menjaga profesionalisme, memperkuat solidaritas, dan mempertahankan marwah organisasi.












