BOJONEGORO — Kelompok Ternak Srono Makmur di Desa Sumberbendo, Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro, menunjukkan bahwa kemandirian peternak tidak selalu bergantung pada besarnya bantuan. Dengan mengoptimalkan potensi lokal, kelompok tersebut mampu memenuhi sebagian kebutuhan pakan secara mandiri sekaligus mengolah limbah peternakan menjadi kompos bernilai ekonomi.
Konsistensi mengembangkan usaha berbasis potensi desa mengantarkan Kelompok Ternak Srono Makmur dipercaya mewakili Kabupaten Bojonegoro dalam Pembinaan dan Penilaian Kelompok Agribisnis Peternakan Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2026.
Selain Srono Makmur, Bojonegoro juga mengirimkan Kelompok Ternak Sapi Lembu Suro dari Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan, dalam agenda penilaian tingkat provinsi tersebut.
Tim penilai dari Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan (Disnakkan) Provinsi Jawa Timur datang ke Desa Sumberbendo, Jumat (28/8/2026). Kedatangan tim disambut anggota Kelompok Ternak Srono Makmur yang kemudian mengajak rombongan meninjau langsung berbagai aktivitas dan fasilitas peternakan.
Mulai dari kandang kambing, gudang pengolahan kompos hingga sekretariat kelompok menjadi bagian dari kunjungan tersebut. Tim penilai juga menerima paparan mengenai profil kelompok, perkembangan usaha, inovasi, serta berbagai kegiatan yang telah dijalankan.
Pembina Kelompok Tani Ternak Srono Makmur, Sulistiyo Nurul Cahyanto, mengatakan kelompok tersebut kini memiliki 25 anggota. Namun, aktivitas kelompok tidak berhenti pada anggota. Sejumlah warga di luar kelompok juga mendapatkan pembinaan agar potensi peternakan dan pertanian di desa dapat berkembang secara lebih luas.
Salah satu kekuatan utama kelompok adalah kemampuannya memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai pakan ternak.
Hijauan atau rambanan, misalnya, relatif mudah diperoleh karena banyak tumbuh di sekitar rumah warga. Kelompok juga memiliki lahan pakan serta memperoleh dukungan dari pemerintah desa berupa hijauan, termasuk tebon dan berbagai limbah hasil pertanian.
Sekitar 60 persen kebutuhan pakan ternak kelompok berasal dari ramban atau hijauan.
“Untuk sistem pakan ternak, depan rumah dan belakang rumah ada rambanan. Kotorannya untuk pupuk dasar. Ini sebuah potensi untuk mengais limbahnya, kita fermentasi dan kita olah. Mindset ini yang kita rubah dan kita jalankan. Pakan ini juga melimpah,” ujar Sulistiyo.
Pola tersebut membuat kegiatan peternakan tidak berdiri sendiri. Sisa produksi dari satu sektor dimanfaatkan untuk menopang sektor lainnya, sehingga terbentuk pola usaha pertanian dan peternakan yang saling terhubung.
Pengelolaan limbah menjadi bagian penting dari konsep yang dikembangkan Srono Makmur. Kotoran kambing tidak dibiarkan menjadi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, melainkan dikumpulkan, difermentasi dan diolah menjadi kompos.
“Kompos kita per bulan ada tiga ton lebih. Ada media tanam juga yang disuport desa,” kata Sulistiyo.
Kompos tersebut kemudian dimanfaatkan untuk berbagai tanaman, mulai dari jagung, waluh, pisang hingga tanaman kayu putih.
Dengan demikian, limbah dari kandang kembali masuk ke lahan pertanian sebagai sumber nutrisi. Siklus tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan sistem pertanian dan peternakan terpadu yang dikembangkan kelompok.
Pemerintah Desa Sumberbendo juga memberikan dukungan terhadap pengembangan media tanam yang dihasilkan kelompok.
Inovasi Srono Makmur tidak berhenti pada pakan dan pengolahan kotoran ternak.
Kelompok tersebut juga melihat kulit kambing sebagai bagian dari potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. Kulit yang selama ini berpotensi menjadi limbah diolah dan dilukis oleh warga asli Desa Sumberbendo.
Kreativitas tersebut memberikan nilai tambah terhadap hasil samping peternakan sekaligus membuka ruang bagi keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Bagi kelompok, peternakan bukan sekadar aktivitas memelihara ternak dan menjual hasilnya. Seluruh bagian dari kegiatan tersebut diupayakan memiliki nilai guna.
Sulistiyo mengatakan, pendekatan tersebut juga menjadi strategi kelompok menghadapi perubahan harga komoditas.
“Kita harus mencoba apa yang bisa kita terapkan. Kalau harga anjlok, kita stop dulu penjualan, kita naikkan di bidang pertanian,” tuturnya.
Pengembangan pertanian dan peternakan terpadu di Desa Sumberbendo diharapkan tidak berhenti pada kegiatan produksi.
Ke depan, Kelompok Ternak Srono Makmur berharap kawasan tersebut dapat berkembang menjadi eduwisata yang menggabungkan aktivitas peternakan, pertanian, pengolahan limbah dan pemberdayaan masyarakat.
Gagasan tersebut dinilai sejalan dengan karakter kelompok yang sejak awal berupaya membangun kemandirian sekaligus melibatkan masyarakat di sekitarnya.
“Tujuan kami bisa menjadi motor penggerak. Anggota produktif bukan hanya di bidang pertanian dan peternakan, tetapi juga terkait kondisi lingkungan dan sosial di masyarakat,” ujar Sulistiyo.
Potensi lain juga muncul dari sumber daya genetik kambing yang dikembangkan kelompok. Potensi tersebut bahkan menarik perhatian peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk melakukan riset terkait penetapan galur baru serta pembentukan wilayah sumber bibit kambing berbasis agroforestri.
Kepala Disnakkan Kabupaten Bojonegoro, Catur Rahayu, menilai Srono Makmur merupakan salah satu kelompok peternak yang memiliki kemauan kuat untuk berkembang secara mandiri.
Menurutnya, kekuatan kelompok tersebut bukan semata karena mendapatkan dukungan pemerintah, melainkan karena adanya kemauan untuk mengelola potensi yang dimiliki.
“Ini salah satu kelompok ternak yang tekadnya kuat, tidak mengandalkan bantuan. Mereka memiliki kemampuan dan kemauan sehingga bisa memberikan manfaat bagi kelompok, bahkan sampai warga sekitar,” kata Catur.
Ia mengatakan pemerintah melalui Disnakkan terus memberikan pembinaan dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas serta keterampilan anggota kelompok.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat usaha peternakan sekaligus meningkatkan kesejahteraan para peternak.
Catur menjelaskan, kambing merupakan salah satu komoditas yang turut menopang produksi daging di Kabupaten Bojonegoro. Secara keseluruhan, produksi daging di daerah tersebut mencapai lebih dari 41.000 ton yang berasal dari sejumlah komoditas, antara lain sapi, kambing, domba dan unggas.
Untuk komoditas kambing, Bojonegoro berada di peringkat ketujuh di Jawa Timur. Sementara untuk domba berada di peringkat pertama dan sapi di peringkat kelima.
Menurut Catur, berbagai inovasi dan prestasi yang ditorehkan Srono Makmur menjadi alasan kelompok tersebut diusulkan mewakili Kabupaten Bojonegoro dalam penilaian tingkat Provinsi Jawa Timur.
Kelompok itu sebelumnya juga telah memperoleh sejumlah penghargaan di tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional.
“Mas Sulis selaku pembina kelompok terus mendorong pengembangan usaha. Tidak hanya ternak, tetapi juga ada pengembangan usaha dari kulit kambing yang dilukis serta pengolahan kotoran ternak menjadi produk yang bermanfaat,” ujarnya.
Kisah Srono Makmur memperlihatkan bahwa pengembangan peternakan di tingkat desa dapat bergerak lebih jauh ketika potensi lokal dikelola secara terpadu. Pakan tidak harus selalu dibeli, limbah tidak harus berakhir sebagai beban, dan hasil samping peternakan dapat diubah menjadi sumber pendapatan baru.
Dari kandang, lahan pertanian hingga keterlibatan warga, kelompok tersebut tengah membangun sebuah ekosistem usaha yang bertumpu pada prinsip sederhana, mengubah potensi yang ada di sekitar menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.












