BOYOLALI — Musim kemarau yang berlangsung berkepanjangan mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat di Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali. Keterbatasan ketersediaan air menjadi salah satu persoalan yang semakin mendapat perhatian, terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, peternakan, dan aktivitas pertanian.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Babinsa Koramil 17/Wonosegoro, Kodim 0724/Boyolali, Sertu Ali Mufid. Ia turun langsung ke wilayah binaannya di Dukuh Klampok, Desa Guwo, Kecamatan Wonosegoro, Minggu (6/9/2026), untuk memantau kondisi masyarakat sekaligus menyerap berbagai keluhan yang muncul selama musim kemarau.
Dalam komunikasi sosial bersama warga, Sertu Ali Mufid berdialog secara langsung mengenai kondisi yang mereka hadapi. Persoalan keterbatasan air menjadi salah satu keluhan utama yang disampaikan masyarakat.
Bagi warga, air tidak hanya dibutuhkan untuk keperluan rumah tangga. Ketersediaannya juga berkaitan erat dengan keberlangsungan ternak dan kegiatan pertanian yang menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat.
Menghadapi kondisi tersebut, warga diimbau menggunakan air secara bijaksana dengan mendahulukan kebutuhan yang bersifat mendesak. Penghematan air dinilai penting agar persediaan yang masih tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal selama musim kemarau belum berakhir.
“Babinsa harus selalu hadir di tengah masyarakat, terlebih saat warga menghadapi kesulitan akibat kondisi musim kemarau. Dengan mendengar langsung keluhan warga, kita dapat mengetahui permasalahan yang terjadi di lapangan dan bersama-sama mencari solusi,” ujar Sertu Ali Mufid.
Selain persoalan ketersediaan air, kondisi cuaca yang panas dan kering juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran lahan maupun lingkungan. Karena itu, Babinsa mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran.
Warga juga diminta tidak membakar sampah atau material kering secara sembarangan, terutama di sekitar lahan, kebun, maupun kawasan yang memiliki banyak vegetasi kering. Langkah pencegahan dinilai menjadi bagian penting dalam mengantisipasi meluasnya kebakaran pada musim kemarau.
Kegiatan komunikasi sosial tersebut sekaligus menjadi sarana bagi Babinsa untuk memastikan perkembangan situasi di wilayah binaan tetap terpantau. Dialog secara langsung dengan masyarakat memungkinkan berbagai persoalan diketahui sejak dini sehingga dapat dicarikan langkah penanganan secara bersama-sama.
Di tengah kondisi kemarau yang menuntut kewaspadaan lebih tinggi, kehadiran aparat kewilayahan di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong. Dengan kepedulian dan kerja sama antara masyarakat serta unsur kewilayahan, berbagai dampak musim kemarau diharapkan dapat dihadapi secara lebih terukur dan bersama-sama.












