Polres Mojokerto Kota Latih 70 Driver Ojol PPGD, Disiapkan Jadi Penolong Pertama di Jalan

  • Bagikan
Image1787877504

MOJOKERTO — Sebanyak 70 pengemudi ojek online (ojol) di Kota Mojokerto mendapat pembekalan keterampilan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) sebagai upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memberikan pertolongan awal kepada korban kecelakaan lalu lintas.

Pelatihan bertajuk “Ojek Online Level Up, Garda Terdepan Penyelamat di Jalan” tersebut digelar Satuan Lalu Lintas Polres Mojokerto Kota di Aula Rupatama Polres Mojokerto Kota, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama sekitar empat jam itu dibuka langsung oleh Kapolres Mojokerto Kota AKBP Herdiawan Arifianto. Pelaksanaan pelatihan melibatkan Dinas Kesehatan Kota Mojokerto serta Jasa Raharja, sehingga materi yang diberikan tidak hanya berorientasi pada keselamatan berlalu lintas, tetapi juga pada kemampuan menghadapi kondisi darurat medis di lapangan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakapolres Mojokerto Kota Kompol Jalaludin, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mojokerto dr. Achmad Rheza, Sp.OG., Kasat Lantas AKP R. Bayu Aji, serta perwakilan Jasa Raharja Deffri Endra Swiageta.

Kapolres Mojokerto Kota AKBP Herdiawan Arifianto mengatakan, pelatihan tersebut merupakan respons atas masukan dari para pengemudi ojol yang dalam aktivitas sehari-hari memiliki mobilitas tinggi dan kerap menjadi orang pertama yang menjumpai kecelakaan di jalan raya.

Dalam situasi seperti itu, keberadaan orang yang berada paling dekat dengan korban menjadi sangat penting. Namun, niat untuk membantu sering kali terbentur kekhawatiran melakukan kesalahan ketika memberikan pertolongan.

“Teman-teman ojol sebenarnya sangat responsif, tetapi banyak yang tidak berani menolong karena takut salah tindakan. Lewat pelatihan bersama tim Dinkes yang dipimpin dr. Wahyu ini, kami harap mereka memiliki pengetahuan medis dasar yang benar,” ujar Herdiawan.

Menurutnya, penanganan awal yang tepat memiliki arti penting dalam kondisi kegawatdaruratan. Sebaliknya, tindakan yang tidak sesuai prosedur justru berpotensi memperburuk kondisi korban.

Karena itu, pelatihan PPGD diharapkan dapat membangun keberanian sekaligus meningkatkan pemahaman para pengemudi ojol mengenai batas-batas tindakan yang aman sebelum korban mendapatkan penanganan dari tenaga medis profesional.

Selain memberikan keterampilan pertolongan pertama, Herdiawan juga mendorong komunitas ojol untuk berperan lebih luas dalam mendukung upaya kepolisian menjaga keselamatan di jalan raya.

Para pengemudi ojol diminta tidak ragu menyampaikan informasi yang mereka ketahui apabila menyaksikan kecelakaan lalu lintas. Mereka juga diharapkan bersedia menjadi saksi apabila informasi tersebut dibutuhkan dalam proses penanganan maupun penyelidikan suatu peristiwa kecelakaan.

Peran tersebut dinilai penting karena pengemudi ojol memiliki intensitas berada di jalan yang relatif tinggi. Dengan demikian, mereka bukan hanya pengguna jalan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari jejaring masyarakat yang membantu menciptakan keselamatan lalu lintas.

Pelatihan tersebut mendapat respons positif dari para peserta. Maulana, salah seorang koordinator komunitas ojol, menilai materi yang diberikan memiliki manfaat praktis karena bersentuhan langsung dengan situasi yang mungkin mereka hadapi selama bekerja.

Menurut dia, pengemudi ojol memiliki kemungkinan berhadapan dengan berbagai kondisi darurat di jalan, mulai dari kecelakaan ringan hingga peristiwa yang membutuhkan pertolongan segera.

“Kami berterima kasih dan berharap ada pelatihan lanjutan. Di jalanan kami bisa menemui situasi apa saja, bahkan yang lebih parah,” kata Maulana.

Harapan serupa disampaikan Margono, koordinator ojol Shopee. Ia berharap program edukasi semacam itu tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan dapat dilaksanakan secara berkala dengan materi yang semakin beragam.

Menurutnya, pelatihan berkelanjutan akan memberikan pengalaman taktis bagi para pengemudi sehingga mereka lebih siap menghadapi keadaan darurat tanpa mengabaikan keselamatan diri sendiri maupun korban.

Satlantas Polres Mojokerto Kota berharap sinergi antara kepolisian, Dinas Kesehatan, Jasa Raharja, dan komunitas ojol dapat melahirkan pola penanganan kecelakaan yang lebih cepat dan tepat di lapangan.

Pengemudi ojol yang setiap hari bersentuhan langsung dengan dinamika lalu lintas dinilai memiliki posisi strategis sebagai bagian dari mata rantai pertolongan pertama. Ketika kecelakaan terjadi, mereka dapat membantu mengamankan situasi, memberikan pertolongan awal sesuai kemampuan, menghubungi layanan darurat, serta memberikan informasi kepada petugas.

Dengan pembekalan tersebut, peran ojol diharapkan berkembang melampaui fungsi sebagai pelopor tertib lalu lintas. Mereka diproyeksikan menjadi bagian dari masyarakat yang memiliki kesiapan menghadapi keadaan darurat, sekaligus turut membantu menekan risiko fatalitas korban kecelakaan sebelum tenaga medis tiba di lokasi.

Bagi kepolisian, membangun keselamatan jalan bukan semata-mata perkara penegakan aturan. Keselamatan juga membutuhkan pengetahuan, keberanian untuk bertindak secara tepat, serta keterlibatan masyarakat yang berada paling dekat dengan peristiwa ketika keadaan darurat terjadi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *