SRAGEN — Upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) terus diperkuat di wilayah Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen. Langkah tersebut dilakukan melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang melibatkan unsur TNI, tenaga kesehatan, perangkat kelurahan, serta masyarakat.
Babinsa Koramil 15/Gemolong Kodim 0725/Sragen, Serka Sumanto, bersama perangkat Kelurahan Gemolong, petugas Puskesmas, dan bidan desa turun langsung ke lingkungan warga di Dukuh Klentang RT 07/RW 02, Kelurahan Gemolong, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan PSN difokuskan pada pemeriksaan kondisi lingkungan dan identifikasi berbagai tempat yang berpotensi menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebaran virus dengue penyebab DBD.
Petugas bersama warga memeriksa sejumlah tempat penampungan air, lingkungan rumah, serta benda-benda yang berpotensi menampung air hujan. Langkah tersebut dilakukan untuk menemukan sekaligus menghilangkan tempat yang dapat menjadi media perkembangbiakan jentik nyamuk.
Serka Sumanto menegaskan, pencegahan DBD tidak dapat hanya mengandalkan tindakan fogging ketika kasus telah muncul. Menurutnya, pemberantasan sarang nyamuk secara rutin justru menjadi bagian penting dalam memutus siklus perkembangbiakan nyamuk sejak dari sumbernya.
“Pencegahan DBD harus dilakukan bersama-sama. Lingkungan yang bersih dan tidak ada genangan air menjadi salah satu kunci untuk mencegah berkembangnya nyamuk,” ujar Serka Sumanto.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan melalui langkah sederhana namun konsisten. Warga diingatkan untuk rutin menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
Edukasi tersebut menjadi bagian penting dari PSN karena jentik nyamuk dapat berkembang di genangan air yang relatif kecil dan sering kali luput dari perhatian. Karena itu, pemeriksaan lingkungan secara berkala dinilai perlu dilakukan, terutama pada permukiman yang memiliki banyak tempat penampungan air.
Keterlibatan Babinsa bersama tenaga kesehatan dan unsur pemerintahan di tingkat kelurahan sekaligus menunjukkan bahwa pencegahan DBD membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Peran masyarakat menjadi faktor penentu karena sebagian besar upaya pemberantasan sarang nyamuk harus dilakukan secara langsung di lingkungan tempat tinggal.
Serka Sumanto mengajak masyarakat tidak menunggu hingga ditemukan kasus DBD untuk mulai melakukan tindakan pencegahan. Menurutnya, PSN harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari sehingga lingkungan tetap terjaga dan risiko penularan dapat ditekan.
“Yang paling penting adalah kesadaran warga. Jangan menunggu ada kasus DBD baru bergerak. PSN harus menjadi kebiasaan bersama,” tegasnya.
Melalui kegiatan PSN yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, sinergi antara aparat kewilayahan, tenaga kesehatan, pemerintah kelurahan, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan DBD sekaligus membangun kesadaran kolektif untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas dari sarang nyamuk.












