Cegah Bullying Sejak Dini, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Edukasi 75 Siswa SDN Ngarum 1

  • Bagikan
IMG 20260814 WA0049

SRAGEN — Upaya membangun lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari perundungan terus dilakukan melalui pendekatan edukatif sejak usia dini. Di SDN Ngarum 1, Desa Ngarum, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, Babinsa bersama Bhabinkamtibmas memberikan pembekalan kepada 75 siswa kelas 4, 5 dan 6 mengenai bahaya bullying serta pentingnya menciptakan budaya saling menghormati di lingkungan sekolah.

Kegiatan tersebut menghadirkan Babinsa Desa Ngarum, Serda Sutrisno, bersama Bhabinkamtibmas Desa Ngarum, Aipda Ambar Woko, SH. Edukasi turut diikuti Kepala SDN Ngarum 1 Suwarno, S.Pd.SD, para guru, 10 mahasiswa KKN, serta seluruh siswa yang menjadi peserta sosialisasi.

Materi disampaikan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Para peserta diajak memahami bahwa perundungan bukan sekadar persoalan bercanda antarteman, melainkan perilaku yang dapat meninggalkan dampak serius bagi korban, baik secara psikologis maupun terhadap proses pendidikan.

Serda Sutrisno menjelaskan, bullying dapat muncul dalam berbagai bentuk. Tidak hanya melalui kekerasan fisik, tetapi juga lewat ucapan dan perilaku, seperti mengejek, memberikan julukan yang merendahkan, mengucilkan, mengancam, hingga mempermalukan teman di hadapan orang lain.

“Jangan pernah menganggap bullying sebagai candaan. Kalau perkataan atau perbuatan kita membuat teman takut, malu, sedih atau merasa tidak berharga, berarti sudah ada masalah. Jadilah teman yang saling menjaga, bukan saling menjatuhkan,” tegas Serda Sutrisno.

Menurutnya, pencegahan perundungan tidak cukup hanya dilakukan setelah sebuah kejadian terjadi. Anak-anak perlu dibekali pemahaman agar mampu mengenali tindakan bullying sekaligus mengetahui langkah yang tepat ketika melihat atau mengalaminya.

Karena itu, para siswa juga diingatkan agar tidak menjadi bagian dari rantai perundungan. Ketika menyaksikan teman menjadi korban, mereka diminta tidak ikut menertawakan, menyebarkan maupun merekam kejadian tersebut. Sebaliknya, siswa dianjurkan segera meminta bantuan kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.

Serda Sutrisno menekankan bahwa keberanian untuk melapor bukanlah tindakan mengadu dalam pengertian negatif. Menurutnya, melapor merupakan bentuk kepedulian untuk melindungi teman dan mencegah persoalan berkembang menjadi lebih serius.

Pesan serupa disampaikan Aipda Ambar Woko. Ia mengajak siswa membangun pola pergaulan yang sehat dengan menghargai perbedaan karakter, kemampuan maupun kondisi masing-masing teman.

“Setiap anak mempunyai kelebihan dan kekurangan. Jangan menjadikan kekurangan teman sebagai bahan ejekan. Kalau ingin sekolah nyaman, maka kita semua harus ikut menjaga,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diberikan pemahaman mengenai dampak yang dapat dialami korban perundungan. Bullying yang terjadi secara berulang dapat membuat seorang anak merasa takut datang ke sekolah, kehilangan kepercayaan diri, menarik diri dari lingkungan pertemanan, bahkan mengalami gangguan dalam mengikuti proses belajar.

Oleh sebab itu, sekolah dipandang bukan hanya sebagai tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter, empati dan kemampuan siswa dalam menghargai orang lain.

Suasana sosialisasi berlangsung komunikatif. Para siswa terlihat antusias mengikuti materi yang diberikan serta terlibat dalam sesi interaksi bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Pendekatan dialogis tersebut membuat pesan mengenai bahaya bullying lebih mudah dipahami oleh para peserta.

Kepala SDN Ngarum 1, Suwarno, mengapresiasi keterlibatan TNI dan Polri dalam memberikan edukasi kepada para siswa. Menurutnya, pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan bersama, tidak hanya dari pihak sekolah, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar anak.

Sinergi tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan mendukung tumbuh kembang siswa. Dengan pemahaman yang diberikan sejak dini, diharapkan para siswa mampu membangun pergaulan yang sehat serta memiliki keberanian untuk mencegah dan melaporkan tindakan perundungan.

Pada akhirnya, pesan yang dibangun dalam kegiatan itu sederhana namun penting: sekolah yang aman tidak tercipta hanya karena tidak ada kekerasan, tetapi karena setiap warga sekolah memiliki kepedulian untuk saling menghormati, melindungi dan menghargai satu sama lain.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *