Bupati Ketapang Resmikan Pagelaran Seni Budaya Melayu 2026, Perkuat Persaudaraan dan Lestarikan Warisan Budaya

  • Bagikan
IMG 20260731 WA0108

KETAPANG – Komitmen Pemerintah Kabupaten Ketapang dalam menjaga kelestarian budaya lokal kembali ditegaskan melalui pembukaan Pagelaran Seni Budaya Melayu (PSBM) 2026 yang berlangsung di Kecamatan Manis Mata. Kegiatan yang menjadi agenda penting pelestarian budaya tersebut secara resmi dibuka oleh Bupati Ketapang, Alexsander Wilyo, di Lapangan Bola Kecamatan Manis Mata, Rabu (29/7/2026).

Pagelaran yang berlangsung selama empat hari, mulai 29 Juli hingga 1 Agustus 2026, tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan seni tradisional, tetapi juga menjadi wadah mempererat persaudaraan masyarakat, memperkokoh persatuan, serta menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Melayu yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Mengusung tema “Tancapkan Persaudaraan, Marwah Melayu Tak Lekang Oleh Waktu, Menjaga Marwah Menjunjung Tuah”, pembukaan PSBM berlangsung meriah dengan berbagai pertunjukan khas budaya Melayu. Penampilan syair gulung, atraksi pencak silat, hingga tarian tradisional mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang memadati lokasi acara.

Momentum tersebut juga dirangkaikan dengan pengukuhan pengurus Dewan Pimpinan Cabang Majelis Adat Budaya Melayu (DPC MABM) untuk tiga kecamatan, yakni Manis Mata, Marau, dan Air Upas. Pengukuhan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kelembagaan adat sebagai garda terdepan dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan budaya Melayu kepada generasi mendatang.

Dalam sambutannya, Bupati Alexsander Wilyo menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan jajaran pengurus DPC MABM Kecamatan Manis Mata yang dinilai berhasil menyelenggarakan kegiatan dengan baik meski memiliki waktu persiapan yang relatif singkat.

“Saya sangat mengapresiasi jajaran panitia dan pengurus DPC MABM Kecamatan Manis Mata. Walaupun dengan waktu persiapan yang singkat, pelaksanaan hingga pembukaan berjalan baik dan sukses. Ini menjadi bukti kuatnya kebersamaan dalam mencapai hasil terbaik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Pagelaran Seni Budaya Melayu tidak hanya menjadi ajang pelestarian seni dan tradisi, tetapi juga memiliki makna strategis sebagai media mempererat silaturahmi, memperkuat persatuan, serta membangun kesadaran kolektif untuk menjaga warisan budaya sebagai identitas masyarakat Kabupaten Ketapang.

Menurutnya, keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan bangsa yang harus terus dipelihara dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan terus menjaga kehidupan yang harmonis dengan menghormati adat istiadat, budaya, dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.

Bupati menjelaskan bahwa tema PSBM tahun ini mengandung pesan mendalam mengenai pentingnya persaudaraan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat yang damai, rukun, dan saling menghargai.

“Marwah Melayu adalah kehormatan, jati diri, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Marwah tersebut tidak akan lekang oleh perubahan zaman apabila terus dijaga melalui sikap, perilaku, adat istiadat, bahasa, serta seni budaya yang kita lestarikan bersama,” tegasnya.

Ia juga menyoroti makna ungkapan “Menjunjung Tuah”, yang menurutnya menjadi pengingat bahwa setiap warisan budaya Melayu mengandung nilai-nilai kearifan, keberkahan, serta pedoman hidup yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Pembukaan PSBM 2026 dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Ketapang, staf ahli, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), Ketua MABM Kabupaten Ketapang beserta pengurus, anggota DPRD Kabupaten Ketapang, unsur Forkopimcam Manis Mata, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, perwakilan perusahaan, serta ratusan masyarakat yang memenuhi area kegiatan.

Kehadiran berbagai unsur pemerintahan, lembaga adat, dan masyarakat tersebut mencerminkan sinergi dalam menjaga keberlangsungan budaya Melayu sebagai bagian penting dari identitas daerah sekaligus aset budaya nasional.

Melalui penyelenggaraan Pagelaran Seni Budaya Melayu 2026, Pemerintah Kabupaten Ketapang berharap nilai-nilai budaya Melayu tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu berkembang mengikuti dinamika zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Di sisi lain, kegiatan ini diharapkan menjadi perekat persatuan masyarakat di tengah keberagaman budaya yang menjadi kekayaan Kabupaten Ketapang sekaligus memperkuat karakter daerah yang berlandaskan nilai-nilai budaya, persaudaraan, dan kebersamaan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *