Dekranasda Bojonegoro Siapkan IKM Tembus Pasar Global, Target Ekspor Diproyeksikan 2028

  • Bagikan
1000368888

BOJONEGORO – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat kapasitas pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) agar mampu meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan pasar.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan pembinaan yang diikuti ratusan pelaku IKM di Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan berlangsung di Hotel Eastern, Selasa (21/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono, Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) Sri Wahyuni, Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, jajaran pengurus Dekranasda, serta sejumlah tamu undangan.

Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono mengatakan, pengembangan IKM membutuhkan perencanaan yang berkelanjutan. Untuk itu, Dekranasda telah menyusun peta jalan pengembangan IKM selama lima tahun.

Pada 2025, pengembangan difokuskan pada pembangunan fondasi. Tahap tersebut meliputi identifikasi produk kerajinan unggulan, pembentukan ikon produk daerah, penguatan branding, hingga pengembangan sentra industri.

Memasuki 2026, fokus pengembangan diarahkan pada peningkatan kualitas produk dan sumber daya manusia. Tahap ini menjadi bagian penting untuk memastikan produk IKM Bojonegoro memiliki kualitas yang mampu menjawab tuntutan pasar.

Cantika mengatakan, target ekspor produk unggulan Bojonegoro diproyeksikan mulai terealisasi pada 2028. Namun, persiapan menuju target tersebut telah dimulai sejak tahun ini.

“Persaingan saat ini bukan lagi antardaerah, tetapi sudah bersaing dengan produk dari berbagai negara. Karena itu kualitas, detail produk, inovasi, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar harus terus ditingkatkan agar produk Bojonegoro siap bersaing di pasar global,” ujar Cantika.

Menurutnya, sejumlah langkah telah dilakukan untuk mempersiapkan pelaku IKM menghadapi persaingan tersebut. Di antaranya melalui peningkatan kualitas produk, pengembangan desain, pembenahan kemasan, penguatan digital marketing, serta perluasan akses pasar.

Dekranasda juga mendorong pelaku IKM untuk mengikuti berbagai pameran di tingkat regional, nasional, hingga internasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka peluang pasar baru.

Selain itu, sejumlah program pendampingan juga telah dilaksanakan. Di antaranya pelatihan pemasaran digital melalui siaran langsung TikTok, keikutsertaan dalam pameran Inacraft, peningkatan desain dan branding produk, hingga pembukaan akses pasar nasional dan internasional.

Dalam kegiatan tersebut, Dekranasda Kabupaten Bojonegoro juga memperkuat kerja sama dengan perguruan tinggi melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang.

Cantika mengatakan, kolaborasi tersebut merupakan bagian dari penerapan konsep hexahelix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat.

“Melalui kolaborasi ini kami berharap para dosen, peneliti, dan mahasiswa dapat menjadi mitra strategis bagi IKM, sehingga berbagai kendala usaha dapat dicarikan solusi melalui kegiatan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pelaku IKM untuk terus meningkatkan kemampuan di tengah perubahan teknologi dan perkembangan pasar yang semakin cepat.

Menurut Cantika, kemauan untuk terus belajar, berinovasi, memanfaatkan teknologi digital termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta memperluas jejaring dan kolaborasi merupakan kunci penting agar pelaku IKM dapat berkembang dan naik kelas.

Sementara itu, Wakil Dekan I FEB UMM Sri Wahyuni mengapresiasi kerja sama yang terjalin antara Universitas Muhammadiyah Malang dan Dekranasda Kabupaten Bojonegoro.

Ia menilai kolaborasi tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas IKM melalui pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan.

Menurut Sri, pelaku IKM yang ingin meningkatkan skala usaha hingga menembus pasar ekspor harus memiliki kesiapan tata kelola dan standar produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar global.

“Ketika usaha sudah naik kelas dan siap ekspor, maka pelaku IKM juga harus siap dengan tata kelola dan standar yang mengikuti kebutuhan pasar global. Karena itu pendampingan akan terus kami lakukan secara bertahap,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi pembinaan yang dipandu oleh tim FEB UMM.

Dalam sesi tersebut, para peserta memperoleh materi mengenai penguatan kapasitas IKM, pengelolaan usaha, peningkatan daya saing produk, hingga strategi memperluas akses pasar dan menembus pasar ekspor.

Melalui pembinaan dan kolaborasi lintas sektor tersebut, Dekranasda Kabupaten Bojonegoro berupaya membangun ekosistem IKM yang lebih kuat, inovatif, adaptif, dan mampu bersaing di tengah kompetisi pasar global.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *