IDI dan PERSADIA Jawa Timur Perkuat Edukasi Diabetes di Bojonegoro, Tekankan Pencegahan Melalui Gaya Hidup Sehat

  • Bagikan
1000366952

BOJONEGORO – Upaya memperkuat kesadaran masyarakat terhadap bahaya diabetes melitus terus dilakukan melalui kolaborasi lintas organisasi profesi dan pemerintah daerah. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bojonegoro bersama Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Jawa Timur menggelar seminar bertajuk “Hidup Sehat Sejahtera dengan Diabetes Terkontrol” di Pendopo Malowopati Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Minggu (19/7/2026), dalam rangka memperingati World Diabetes Day (WDD) 2026.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi forum edukasi yang mempertemukan tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat untuk memperkuat pemahaman mengenai pencegahan, pengendalian, serta penanganan diabetes secara komprehensif. Sebelum seminar untuk masyarakat umum berlangsung, panitia juga menyelenggarakan seminar ilmiah yang diikuti dokter umum dan dokter spesialis penyakit dalam sebagai bagian dari peningkatan kapasitas tenaga medis.

Kolaborasi antara IDI Cabang Bojonegoro, PERSADIA Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Kesehatan diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap informasi kesehatan yang berbasis ilmiah sekaligus meningkatkan mutu pelayanan bagi penyandang diabetes di wilayah Bojonegoro.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Alvi Chomariyati, menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengendalian diabetes bukan semata-mata penyakit itu sendiri, melainkan rendahnya tingkat pemahaman masyarakat mengenai faktor risiko, pencegahan, hingga pengelolaannya.

Menurutnya, peningkatan kasus diabetes yang terjadi dari tahun ke tahun harus direspons melalui edukasi yang berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya penyampaian informasi kesehatan yang akurat, mudah dipahami, dan berbasis ilmu pengetahuan agar masyarakat mampu mengendalikan diabetes melalui pengaturan pola makan, aktivitas fisik yang teratur, kepatuhan menjalani terapi, serta perubahan gaya hidup yang lebih sehat.

Sementara itu, Ketua IDI Cabang Bojonegoro, dr. Pramono Apriawan Wijayanto, menyampaikan bahwa penyelenggaraan seminar tersebut merupakan bentuk pengabdian profesi kedokteran kepada masyarakat sekaligus wujud komitmen organisasi dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Ia menilai keberhasilan pengendalian diabetes tidak cukup hanya melalui pelayanan medis, tetapi juga membutuhkan edukasi yang konsisten agar masyarakat memahami bahwa komplikasi diabetes sering kali jauh lebih berbahaya dibanding penyakit utamanya. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah mempercayai informasi kesehatan yang belum memiliki dasar ilmiah dan selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan yang kompeten.

Mewakili Bupati Bojonegoro, Sekretaris Daerah Kabupaten Bojonegoro Edi Susanto menyampaikan apresiasi atas sinergi yang dibangun antara organisasi profesi kesehatan dengan pemerintah daerah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit tidak menular, khususnya diabetes melitus.

Dalam sambutan Bupati yang dibacakannya, Edi menyebut diabetes sebagai silent killer karena sering berkembang tanpa gejala yang jelas hingga akhirnya menimbulkan berbagai komplikasi serius. Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah penyandang diabetes terbesar di dunia, kondisi yang dipengaruhi oleh perubahan pola hidup, konsumsi makanan tinggi gula, rendahnya aktivitas fisik, serta minimnya kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, lanjutnya, terus memperkuat langkah promotif dan preventif melalui Dinas Kesehatan beserta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Berbagai program seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) terus digalakkan, disertai upaya deteksi dini penyakit tidak menular dan penerapan perilaku hidup sehat melalui konsep CERDIK, yaitu cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat yang cukup, serta mengelola stres.

Menurut Edi, keberhasilan pengendalian diabetes hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah berharap IDI dan PERSADIA terus menjadi mitra strategis dalam memberikan edukasi kesehatan sehingga semakin banyak masyarakat yang mampu mencegah, mendeteksi sejak dini, dan mengendalikan diabetes secara optimal.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, seminar menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas berbagai aspek komplikasi diabetes. dr. Hermina Novida memaparkan hubungan antara diabetes dengan risiko pengeroposan tulang, sementara dr. Sekar Ayu menjelaskan mengenai retinopati diabetik yang menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan pada penyandang diabetes. Adapun Erni Ernawati memberikan edukasi mengenai pentingnya memilih pola konsumsi yang sehat sebagai salah satu kunci utama dalam menjaga kadar gula darah tetap terkendali.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini, perubahan gaya hidup sehat, serta kepatuhan menjalani pengobatan semakin meningkat. Edukasi yang berkesinambungan diyakini menjadi fondasi penting dalam menekan angka komplikasi sekaligus meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes di Kabupaten Bojonegoro.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *