Dari Smartphone ke Pasar Digital, BWBF 2026 Dorong UMKM Bojonegoro Naik Kelas

  • Bagikan
1000333954

BOJONEGORO – Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2026 tidak hanya menjadi panggung promosi wastra batik dan produk ekonomi kreatif daerah, tetapi juga berkembang menjadi ruang edukasi yang memperkuat kapasitas pelaku usaha dalam menghadapi persaingan pasar digital. Melalui talkshow bertajuk “Product Shoot & Copywriting Cepat: Bikin Wastra Bojonegoro Tampil Premium Hanya Pakai Smartphone”, para peserta diajak memahami strategi pemasaran modern yang efektif dan mudah diterapkan.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (17/6/2026) tersebut diikuti oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kalangan pelajar, serta pengunjung BWBF yang ingin memperdalam wawasan mengenai pemasaran produk di era digital. Hadir sebagai narasumber, AI Visual Content Creator asal Kediri, Bhaot Sudanco, yang membagikan pengalaman dan pengetahuannya mengenai pentingnya visual dalam membangun daya tarik sebuah produk.

Dalam paparannya, Bhaot menegaskan bahwa keberhasilan pemasaran digital saat ini sangat ditentukan oleh kualitas visual yang ditampilkan kepada calon konsumen. Menurutnya, foto produk merupakan elemen pertama yang menarik perhatian ketika seseorang berbelanja melalui platform daring.

Ia menjelaskan bahwa konsumen cenderung mengambil keputusan awal berdasarkan tampilan visual sebelum mempertimbangkan harga maupun membaca deskripsi produk. Oleh karena itu, foto yang menarik dan profesional menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang terjadinya transaksi.

“Foto merupakan pintu masuk sebuah penjualan. Ketika visual mampu menarik perhatian, calon pembeli akan terdorong untuk mengetahui lebih lanjut mengenai produk yang ditawarkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bhaot menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kini dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembuatan konten pemasaran. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu dan tidak dapat menggantikan pemahaman dasar mengenai fotografi maupun strategi komunikasi pemasaran.

Menurutnya, pelaku usaha tetap perlu memahami cara menyusun komposisi gambar, mengatur pencahayaan, hingga menentukan sudut pengambilan foto yang tepat agar karakter dan keunggulan produk dapat tersampaikan secara maksimal kepada konsumen.

Dalam sesi praktik dan diskusi, peserta memperoleh berbagai tips sederhana namun efektif untuk menghasilkan foto produk berkualitas menggunakan smartphone. Beberapa poin yang ditekankan antara lain pemanfaatan pencahayaan sebagai unsur utama dalam fotografi, penggunaan fitur grid untuk menjaga keseimbangan komposisi, pengaturan resolusi kamera pada kualitas tertinggi, serta memastikan fokus gambar berada pada objek utama.

Selain itu, peserta juga didorong untuk menggunakan properti pendukung yang relevan agar produk tampil lebih menarik, bernilai premium, dan memiliki identitas visual yang kuat. Teknik-teknik tersebut dinilai sangat relevan bagi pelaku UMKM karena dapat diterapkan tanpa memerlukan peralatan fotografi yang mahal.

Tidak hanya membahas aspek visual, talkshow juga mengupas pentingnya copywriting dalam strategi pemasaran digital. Peserta diberikan pemahaman mengenai cara menyusun kalimat promosi yang singkat, jelas, dan mampu membangun ketertarikan konsumen terhadap produk yang ditawarkan.

Materi tersebut menjadi pelengkap penting dalam upaya memperkuat daya saing produk lokal, mengingat keberhasilan pemasaran digital tidak hanya ditentukan oleh visual yang menarik, tetapi juga oleh kemampuan menyampaikan pesan yang tepat kepada target pasar.

Melalui kegiatan edukatif ini, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap para pelaku UMKM semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu memanfaatkan berbagai platform digital sebagai sarana memperluas jangkauan pemasaran. Langkah tersebut sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah sekaligus memperkenalkan produk unggulan Bojonegoro kepada pasar yang lebih luas.

Setelah mengikuti sesi talkshow, para pengunjung BWBF 2026 melanjutkan kunjungan dengan menikmati beragam koleksi wastra batik khas Bojonegoro yang dipamerkan, serta berbagai stand kuliner yang turut meramaikan festival. Kehadiran kegiatan edukasi yang dipadukan dengan promosi budaya dan ekonomi kreatif tersebut menjadikan BWBF 2026 tidak sekadar sebagai ajang pameran, melainkan juga wadah pengembangan kapasitas bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal dalam menghadapi tantangan ekonomi digital yang terus berkembang.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *