BOJONEGORO — Suasana sakral menyelimuti kawasan wisata Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Selasa (16/6/2026), saat ratusan masyarakat mengikuti prosesi Ruwatan Murwakala 2026. Tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai spiritual, mempererat kebersamaan sosial, sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya yang menjadi identitas Kabupaten Bojonegoro.
Sekitar 100 peserta sukerta mengikuti rangkaian ritual yang berlangsung di tengah nyala api abadi Kayangan Api, salah satu situs budaya dan geowisata paling ikonik di Bojonegoro. Prosesi ruwatan dipadukan dengan pagelaran wayang kulit berlakon Murwakala, sebuah pertunjukan yang secara filosofis menggambarkan upaya manusia membersihkan diri dari berbagai pengaruh negatif serta memohon keselamatan dan kesejahteraan dalam kehidupan.
Kehadiran masyarakat dari berbagai daerah menegaskan bahwa tradisi tersebut tidak hanya memiliki dimensi budaya, tetapi juga menjadi ruang refleksi spiritual yang masih relevan di tengah perkembangan zaman. Melalui doa bersama dan prosesi adat yang dijalankan secara khidmat, peserta diajak untuk merefleksikan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.
Dalam sambutannya, Setyo Wahono menegaskan bahwa Ruwatan Murwakala merupakan salah satu warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur dan filosofi kehidupan yang mendalam. Menurutnya, ritual tersebut menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan terhadap alam yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa ruwatan bukan sekadar seremoni adat, melainkan sarana untuk membangun kesadaran spiritual, membersihkan diri dari berbagai hal yang dianggap membawa pengaruh buruk, serta memanjatkan harapan akan kehidupan yang lebih damai, sejahtera, dan penuh keberkahan.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, lanjutnya, berkomitmen untuk terus menjaga dan mengembangkan tradisi budaya lokal sebagai bagian dari upaya mempertahankan identitas daerah. Pelestarian budaya dinilai penting tidak hanya untuk menjaga kesinambungan sejarah, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai moral kepada generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyoroti pentingnya menjaga keberadaan Kayangan Api yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan potensi geowisata yang tinggi. Kawasan tersebut saat ini menjadi bagian dari pengembangan geopark yang diharapkan mampu mendukung sektor pariwisata sekaligus memperkuat upaya konservasi budaya dan lingkungan.
Menurutnya, Kayangan Api merupakan aset berharga yang harus dijaga bersama agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Keberadaan situs tersebut tidak hanya menjadi simbol kebanggaan masyarakat Bojonegoro, tetapi juga bukti kekayaan budaya yang dimiliki daerah.
Ruwatan Murwakala 2026 sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi lokal memiliki peran strategis dalam memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat. Melalui semangat gotong royong dan kebersamaan, budaya tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dihidupkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat masa kini.
Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, pelaksanaan Ruwatan Murwakala di Kayangan Api menunjukkan bahwa kearifan lokal tetap memiliki ruang yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Tradisi tersebut menjadi simbol harmonisasi antara manusia, budaya, dan alam, sekaligus penegasan bahwa warisan leluhur masih menjadi fondasi penting dalam membangun masa depan yang berakar pada nilai-nilai kebudayaan.












