SRAGEN – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional tidak hanya dilakukan melalui kebijakan di tingkat pusat, tetapi juga diwujudkan melalui pendampingan langsung kepada para pelaku usaha pangan di daerah. Di Kabupaten Sragen, peran tersebut terlihat dari keterlibatan aparat teritorial yang aktif mendukung keberlangsungan sektor peternakan rakyat sebagai salah satu penyangga kebutuhan pangan masyarakat.
Komitmen itu ditunjukkan oleh Babinsa Koramil 07/Ngrampal Kodim 0725/Sragen, Serka Yanto, saat melakukan kunjungan dan pengecekan ke peternakan ayam petelur milik Suyanto di Desa Bener, Kecamatan Ngrampal, Senin (15/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pendampingan yang dilakukan TNI melalui satuan kewilayahan untuk memastikan usaha peternakan warga tetap berjalan optimal. Selain memantau kondisi ternak, kunjungan itu juga menjadi sarana komunikasi antara Babinsa dan peternak guna membahas berbagai perkembangan serta tantangan yang dihadapi dalam menjalankan usaha budidaya ayam petelur.
Dalam peninjauannya, Serka Yanto melakukan pengecekan terhadap sejumlah aspek penting yang berkaitan dengan produktivitas peternakan, mulai dari kondisi kandang, kesehatan ayam, ketersediaan pakan, hingga kebersihan lingkungan sekitar. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi potensi munculnya penyakit yang dapat berdampak pada penurunan produksi telur maupun kerugian ekonomi bagi peternak.
Menurut Serka Yanto, sektor peternakan ayam petelur memiliki kontribusi strategis dalam menjaga ketersediaan pangan masyarakat. Telur menjadi salah satu sumber protein hewani yang mudah dijangkau berbagai lapisan masyarakat, sehingga keberlangsungan produksinya perlu mendapat perhatian bersama.
“Peternakan ayam petelur memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Karena itu, kesehatan ternak, kebersihan kandang, dan manajemen pemeliharaan yang baik harus terus dijaga agar produksi tetap optimal,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kehadiran Babinsa di tengah masyarakat tidak hanya berfokus pada aspek keamanan wilayah, tetapi juga mendukung berbagai sektor produktif yang menjadi sumber penghidupan warga. Pendampingan kepada peternak, menurutnya, merupakan bagian dari upaya membangun ketahanan pangan yang kuat dari tingkat desa.
Sementara itu, Suyanto selaku pemilik peternakan menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan Babinsa kepada para peternak. Ia menilai kehadiran aparat kewilayahan memberikan dorongan moral sekaligus menjadi wadah bagi peternak untuk menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi dalam pengelolaan usaha.
“Kami merasa terbantu dengan kehadiran Pak Babinsa. Selain memberikan semangat, beliau juga selalu mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan ternak agar produksi telur tetap stabil dan usaha kami semakin berkembang,” kata Suyanto.
Bagi para peternak, pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan menjadi faktor penting dalam menjaga semangat usaha di tengah berbagai tantangan sektor peternakan, mulai dari fluktuasi harga pakan hingga ancaman penyakit ternak yang dapat memengaruhi hasil produksi.
Melalui kegiatan tersebut, Babinsa tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan teritorial, tetapi juga berperan sebagai mitra masyarakat dalam mendukung keberlanjutan sektor peternakan. Sinergi antara aparat kewilayahan dan peternak diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan daerah, menjaga stabilitas pasokan protein hewani, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Dengan pendampingan yang konsisten dan pengelolaan peternakan yang baik, usaha ayam petelur di Desa Bener diharapkan terus berkembang, menghasilkan ribuan butir telur setiap hari, serta menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional dari tingkat akar rumput.












