TUBAN — Rasa gugup tidak menghalangi langkah Dira Dewi Afriansyah ketika memasuki arena pertandingan karate. Di tengah persaingan atlet muda dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara, siswi kelas 2B SDIT Al Uswah Tuban itu justru mampu menunjukkan ketenangan dan kemampuan terbaiknya.
Dira berhasil meraih Juara 1 Kata Perorangan Usia Dini Putri dalam Yogyakarta International Karate Championship 2026 yang digelar di GOR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 28–30 Agustus 2026. Prestasi tersebut menjadi catatan penting bagi perjalanan Dira sebagai karateka muda asal Tuban.
Kejuaraan tersebut mempertemukan peserta dari berbagai daerah di Indonesia serta atlet dari sejumlah negara, di antaranya Filipina, Malaysia, dan India. Bagi Dira, tampil dalam kompetisi dengan cakupan internasional bukan sekadar kesempatan untuk mengejar podium, tetapi juga pengalaman untuk menguji kemampuan, membangun mental bertanding, sekaligus menumbuhkan keberanian sejak usia dini.
Di balik keberhasilannya di arena, terdapat proses latihan yang dijalani secara konsisten. Selama hampir tiga bulan sebelum kejuaraan, Dira menjalani latihan di Dojo Kodim 0811/Tuban. Dalam sepekan, latihan dilakukan sebanyak tiga kali dengan materi yang diarahkan untuk meningkatkan teknik, kedisiplinan, konsentrasi, serta kesiapan menghadapi pertandingan.
Persiapan yang panjang ternyata tidak sepenuhnya menghilangkan rasa tegang ketika pertandingan berlangsung. Saat berada di arena, Dira mengaku tetap merasakan gugup. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya kehilangan fokus. Ia berusaha mengendalikan ketegangan dan menjaga konsentrasi agar setiap gerakan dapat ditampilkan dengan sebaik mungkin.
“Rasanya gemetar dan tegang, tapi akhirnya lega bisa menang melawan Filipina,” ungkap Dira, Jumat (18/9).
Sebelum bertanding, Dira juga memiliki kebiasaan yang menjadi bagian penting dari persiapannya. Ia terlebih dahulu berdoa, kemudian berpamitan serta meminta restu kepada kedua orang tuanya. Bagi Dira, dukungan keluarga memberikan ketenangan tersendiri sebelum menghadapi tekanan pertandingan.
Dira merupakan putri pasangan Deni Afriansyah dan Dewi Marhamah. Dukungan kedua orang tuanya berjalan beriringan dengan peran pelatih dalam membentuk kemampuan dan mental Dira selama menjalani latihan.
Bagi Deni dan Dewi, keberhasilan putrinya meraih juara bukan semata-mata tentang sebuah piala. Prestasi tersebut diharapkan menjadi dorongan bagi Dira untuk terus belajar, berlatih, dan memperbaiki kemampuan secara konsisten.
Keduanya juga mengingatkan agar pencapaian di bidang olahraga tidak membuat pendidikan dan pembentukan karakter terabaikan. Mereka berharap Dira dapat tumbuh menjadi anak yang santun, sholihah, serta memiliki akhlakul karimah.
Prestasi di Yogyakarta menjadi salah satu tahapan dalam perjalanan Dira mengenal dunia kompetisi. Di usianya yang masih dini, pengalaman menghadapi lawan dari berbagai daerah dan negara memberikan ruang bagi dirinya untuk belajar bahwa keberanian di arena tidak hanya dibentuk oleh kemampuan teknik, tetapi juga oleh disiplin, ketenangan, doa, dan dukungan orang-orang di sekelilingnya.
Bagi Dira, kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa rasa gugup bukan alasan untuk mundur. Dengan latihan yang teratur dan keberanian untuk menghadapi tantangan, seorang atlet muda dapat menjadikan setiap pertandingan sebagai ruang untuk belajar sekaligus bertumbuh.












