PSHT Cabang Sragen Pusat Madiun Audiensi dengan Polres, Upaya Redam Ketegangan dan Jaga Kamtibmas

  • Bagikan
Pengurus psht cabang sragen pusat madiun bertandang ke mapolres sragen sabtu 2982026 ahmad khairudinradar solo RMnsQ

SRAGEN — Jajaran pengurus Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Sragen Pusat Madiun mendatangi Mapolres Sragen, Sabtu (29/8/2026). Pertemuan tersebut digelar sebagai bagian dari upaya memperkuat silaturahmi sekaligus meredam ketegangan yang sempat muncul di sejumlah wilayah Kabupaten Sragen.

Rombongan PSHT diterima di Aula Mapolres Sragen. Audiensi itu menjadi ruang dialog antara jajaran organisasi perguruan pencak silat dengan kepolisian untuk mengevaluasi situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya pascakejadian yang terjadi di wilayah Kecamatan Sambirejo.

Ketua Cabang Sragen PSHT Pusat Madiun, Sunanto, mengatakan pertemuan tersebut tidak semata-mata menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum untuk memastikan hubungan antara organisasi dan aparat penegak hukum tetap berjalan dalam suasana yang konstruktif.

“Tujuan kami bersilaturahmi antar-ranting sekaligus memastikan kondisi kamtibmas di wilayah tersebut tetap terjaga. Hubungan kami selama ini baik, dan Alhamdulillah pada siang hari ini permasalahan yang ada di Sambirejo sudah klir antara kami dan Polres Sragen,” kata Sunanto.

Dalam audiensi tersebut, PSHT mengerahkan sekitar 70 orang. Mereka terdiri atas jajaran pengurus cabang, pimpinan cabang, pamter, serta para ketua ranting.

Kehadiran puluhan pengurus tersebut menunjukkan keseriusan internal PSHT dalam melakukan koordinasi sekaligus memastikan persoalan yang muncul di tingkat wilayah dapat ditangani melalui komunikasi dan mekanisme organisasi yang terukur.

Sunanto mengatakan, koordinasi terkait pengamanan di wilayah Sragen bagian tengah dan barat masih akan dibahas lebih lanjut. Menurut dia, pelaksanaan pengamanan di dua wilayah tersebut masih berkaitan dengan kesiapan pendanaan dan koordinasi antarpihak.

“Untuk wilayah tengah dan barat saat ini belum ada konfirmasi final karena hubungannya dengan pendanaan. Namun dari pihak kami dengan Polres sepakat ada tiga titik wilayah, yakni timur, tengah, dan barat,” ujarnya.

Pembagian koordinasi ke dalam tiga wilayah tersebut diharapkan dapat memperjelas pola komunikasi dan pengamanan, sehingga setiap potensi gangguan kamtibmas dapat diantisipasi sejak dini.

Di sisi lain, Sunanto menyampaikan apresiasi kepada Kapolres Sragen beserta jajaran yang telah menerima rombongan PSHT secara terbuka. Ia menilai pertemuan tersebut penting untuk membangun kembali komunikasi yang efektif serta menghindari kesalahpahaman yang dapat berkembang menjadi persoalan lebih besar.

Menurutnya, audiensi juga menjadi forum evaluasi untuk meluruskan sejumlah miskomunikasi yang sebelumnya terjadi, baik di internal organisasi maupun dalam hubungan dengan aparat penegak hukum.

“Pertemuan ini menjadi sarana evaluasi untuk meluruskan adanya miskomunikasi yang sempat terjadi, baik di internal organisasi maupun dengan aparat penegak hukum,” tutur Sunanto.

Dalam kesempatan tersebut, Sunanto juga menanggapi adanya warga PSHT yang kedapatan membawa senjata tajam ketika terjadi insiden.

Ia tidak menampik adanya temuan tersebut. Berdasarkan data internal organisasi, terdapat tiga orang yang diketahui membawa senjata tajam berupa celurit.

“Yang kemarin ada tiga orang yang membawa senjata tajam. Dua orang merupakan warga dari Ranting Sambirejo, sementara satu lainnya kami kurang tahu identitasnya. Saat itu juga ketiganya sudah diserahkan langsung ke Polsek Sambirejo,” jelasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan adanya langkah internal untuk menyerahkan persoalan tersebut kepada aparat penegak hukum agar dapat ditangani sesuai ketentuan yang berlaku.

Audiensi antara PSHT Cabang Sragen Pusat Madiun dan Polres Sragen diharapkan menjadi titik penting dalam menjaga stabilitas kamtibmas di Kabupaten Sragen. Dialog dan koordinasi lintas pihak dinilai menjadi instrumen penting untuk mencegah kesalahpahaman serta memastikan setiap persoalan di lapangan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Dengan komunikasi yang terbuka antara organisasi masyarakat, aparat keamanan, dan unsur terkait lainnya, situasi keamanan di wilayah Sragen diharapkan tetap terjaga sehingga aktivitas masyarakat dapat berlangsung secara aman dan kondusif.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *