Semarak 17-an Paguyuban Tembang Kenangan Blora: Merawat Nasionalisme Lewat Lagu dan Kebersamaan

  • Bagikan
2608291245503

BLORA — Semangat kemerdekaan tidak selalu dirayakan melalui upacara dan parade. Di Kabupaten Blora, semangat itu mengalun melalui lagu-lagu nasional dan tembang kenangan yang dinyanyikan bersama oleh para pencinta musik lawas.

Paguyuban Tembang Kenangan Kabupaten Blora kembali menggelar agenda tahunan “Semarak 17-an” dengan melibatkan 28 grup dari berbagai wilayah di Kabupaten Blora. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia (HUT ke-81 RI) tersebut berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Sabtu (29/8/2026).

Mengusung tema “Bersama dalam Nada, Bersatu dalam Jiwa, Merdeka untuk Indonesia”, kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Para peserta tampil mengenakan kostum bernuansa merah putih, sekaligus menjadikan musik sebagai medium untuk meneguhkan rasa cinta terhadap tanah air.

Presiden Paguyuban Tembang Kenangan Blora, Endang Setyowati, mengatakan dirinya mengapresiasi antusiasme seluruh peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, suasana kebersamaan terlihat jelas sepanjang acara.

“Alhamdulillah, saya melihat semua peserta terlihat senang, seger, cerah. Ibaratnya padhang jingglang untuk siang hari ini. Merah putih, nuansanya, sangat luar biasa,” ujar Endang dalam sambutannya.

Ia juga menyoroti keterlibatan para pemain musik pengiring atau player yang pada kegiatan kali ini berjumlah enam orang. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang umumnya hanya menggunakan dua player.

“Kalau biasanya boleh memakai dua player, sekarang ada enam player. Tapi ke depannya mungkin tidak seperti ini. Terlalu banyak player juga bingung menaruhnya, nanti kita evaluasi lagi,” katanya.

Sebelum penampilan utama dimulai, acara juga diisi pertunjukan dari grup kolintang IWAPI. Endang menyampaikan apresiasi atas partisipasi tersebut karena memberikan warna tersendiri dalam rangkaian Semarak 17-an tahun ini.

“Terima kasih telah memberi warna tersendiri pada Semarak 17-an kali ini,” ucapnya.

Ia juga memberikan penghargaan kepada seluruh anggota Paguyuban Tembang Kenangan Kabupaten Blora yang selama ini secara swadaya mendukung berbagai kegiatan organisasi.

“Kita selalu swadaya dalam acara apa pun, dan Alhamdulillah panjenengan semuanya mensupport, sehingga setiap ada acara selalu berjalan dengan lancar,” jelas Endang.

Menurut dia, Semarak 17-an merupakan salah satu agenda rutin yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan paguyuban. Selain peringatan HUT Kemerdekaan RI, paguyuban juga secara rutin menggelar kegiatan seperti halalbihalal dan peringatan Hari Kartini.

“Semarak 17-an merupakan acara yang paten, khususnya dalam menyemarakkan HUT ke-81 RI kali ini. Kami percaya semangat nasionalismenya tinggi. Kita senang bareng-bareng, tetap menjaga kesantunan,” katanya.

Setelah rangkaian pembukaan, sebanyak 28 grup tampil secara bergiliran berdasarkan nomor undian. Masing-masing kelompok membawakan lagu yang telah dipersiapkan dengan iringan pemain musik.

Ragam lagu yang dipilih memperlihatkan kuatnya nuansa kebangsaan sekaligus kekayaan musik populer dan tembang lawas Indonesia.

Grup Kemuning membuka penampilan dengan lagu “Nusantara”, disusul Pengurus dengan “Pantang Mundur” dan Paramadina Japah melalui “Lancaran 45”.

NASA membawakan “Kebyar-Kebyar”, sementara IWAPI Song tampil dengan “Berkibarlah Bendera Negeriku”. Sertasay membawakan “Selendang Sutra”, disusul Heppily dengan lagu “Berkibarlah Bendera Negeriku”.

Werda Wirama memilih “Indonesia Jaya”, Seruni membawakan “Tanah Airku”, sedangkan Pelangi kembali menghidupkan suasana melalui “Berkibarlah Bendera Negeriku”.

Penampilan berlanjut dengan Galaxy melalui “Sepasang Mata Bola”, Nadhira dengan “Berkibarlah Bendera Negeriku”, serta Sekar Arum dan Tanpa Nama yang masing-masing membawakan “Kebyar-Kebyar” dan “Bendera”.

Langen Sworo tampil dengan lagu “Blitar”, PEN-NENG membawakan “Surabaya”, sementara Angki memilih “Rek Ayo Rek”.

Ceria kemudian tampil dengan “Kebyar-Kebyar”, disusul Tiara Kusuma dengan “Rek Ayo Rek” dan Berlian melalui “Surabaya”.

M.S.S. membawakan “Lancaran 45”, Hepy-Hepy dengan “Dinda Bestari”, Qiyeng Plus melalui “Nusantara 3”, serta Maos dengan “Berkibarlah Benderaku”.

Puspita tampil dengan “Rek Ayo Rek”, Nuswantoro membawakan “Gambang Semarang”, New Danang LDP dengan “Perjuangan dan Doa”, kemudian Lembayung Ngawen menutup rangkaian penampilan dengan “Berkibarlah Benderaku”.

Berbagai penampilan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan. Di balik lagu-lagu yang dinyanyikan, terselip pesan mengenai perjalanan sejarah, kecintaan terhadap tanah air, serta pentingnya menjaga ingatan kolektif melalui karya seni.

Bagi Paguyuban Tembang Kenangan Blora, Semarak 17-an memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar perayaan ulang tahun kemerdekaan.

Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan bagi para pencinta musik lawas sekaligus sarana memperkuat silaturahmi. Kebersamaan menjadi bagian penting agar anggota paguyuban tetap guyub dan rukun.

Endang mengatakan, semangat nasionalisme menjadi salah satu nilai utama yang hendak terus dirawat melalui kegiatan tersebut.

Di sisi lain, paguyuban juga melihat adanya tantangan dalam pelestarian lagu-lagu nasional dan tembang kenangan Indonesia. Mayoritas anggota paguyuban merupakan kelompok lanjut usia yang memiliki pengalaman panjang dalam mengenal dan menikmati karya-karya musik dari berbagai generasi.

Kondisi tersebut justru mendorong mereka untuk mengambil peran sebagai penjaga warisan musikal agar lagu-lagu lama tidak terputus dari generasi penerus.

“Kita harus mencintai produk dalam negeri, termasuk karya musik berupa lagu kebangsaan dan tembang kenangan asli Indonesia. Ini adalah warisan budaya yang sangat berharga,” tutur Endang.

Ia menilai generasi muda perlu diberi ruang untuk mengenal kembali lagu-lagu legendaris yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Indonesia.

Menurutnya, perkembangan zaman tidak semestinya membuat generasi muda kehilangan hubungan dengan karya-karya musik masa lalu. Lagu-lagu tersebut bukan hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga merekam suasana sosial dan perjalanan bangsa pada zamannya.

“Generasi muda perlu tahu dan mengenal keindahan lagu-lagu tempo dulu. Inilah yang terus kami gaungkan agar mereka tidak melupakan sejarah bangsa,” pungkas Endang.

Melalui Semarak 17-an, Paguyuban Tembang Kenangan Kabupaten Blora menunjukkan bahwa merawat nasionalisme dapat dilakukan melalui berbagai cara. Nada dan lirik menjadi jembatan yang menghubungkan lintas generasi, sementara kebersamaan menjadi energi untuk menjaga warisan budaya Indonesia tetap hidup di tengah perubahan zaman.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *