ENDE, NTT — Di tengah situasi pascagempa bumi yang masih menyisakan duka dan kerentanan bagi masyarakat di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, perhatian Polri tidak hanya diarahkan pada penanganan bencana dan pemulihan situasi, tetapi juga kepada para personel yang turut merasakan dampak gempa.
Kasatgas Humas Ops Aman Nusa II Penanggulangan Bencana NTT, Kombes Pol Bayu Suseno, menyambangi tiga personel Polres Ende yang terdampak bencana. Kunjungan tersebut menjadi bentuk perhatian institusi sekaligus upaya memberikan penguatan moral kepada anggota yang tetap menjalankan tugas di tengah kondisi sulit.
Ketiga personel tersebut adalah Aipda Centysius Spanorama, anggota Satlantas Polres Ende; Bripka Paulus Rago, Bhabinkamtibmas Kelurahan Onekore, Polsek Ende, Polres Ende; serta Aiptu Yahya Tonu Weni, S.Sos., Bhabinkamtibmas Kelurahan Roworena, Polsek Ende, Polres Ende.
Pertemuan berlangsung dalam suasana sederhana dan penuh keakraban. Di hadapan ketiga personel, Kombes Pol Bayu Suseno menyampaikan dukungan sekaligus pesan agar mereka tetap menjaga keteguhan hati dan semangat dalam menjalankan tugas, meskipun secara pribadi juga menghadapi konsekuensi dari bencana yang terjadi.
Menurutnya, pengabdian seorang anggota Polri tidak berhenti ketika menghadapi situasi sulit. Justru dalam kondisi bencana, keberadaan personel di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari upaya membangun rasa aman dan memberikan ketenangan kepada warga.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya kekuatan solidaritas. Personel yang terdampak bencana membutuhkan perhatian dan dukungan, sementara masyarakat membutuhkan kehadiran aparat yang mampu memberikan perlindungan serta membantu proses pemulihan.
Setelah menyambangi para personel, Kombes Pol Bayu Suseno melanjutkan kegiatan dengan meninjau Masjid At Taqwa yang turut terdampak gempa.
Di lokasi tersebut, ia bertemu dengan Imam Masjid At Taqwa, Ruslin Hj. Ibrahim, sekaligus melihat secara langsung kondisi bangunan rumah ibadah tersebut setelah diguncang gempa.
Peninjauan itu memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga kehidupan sosial masyarakat. Kerusakan fasilitas umum dan tempat ibadah menjadi bagian dari persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam proses pemulihan pascabencana.
Kunjungan tersebut juga mencerminkan pendekatan kemanusiaan dalam pelaksanaan tugas kepolisian. Penanganan bencana bukan semata-mata berkaitan dengan pengamanan wilayah, tetapi juga menyangkut kehadiran negara untuk mendampingi masyarakat ketika berada dalam situasi paling rentan.
Bagi Polri, kepedulian terhadap personel dan warga merupakan bagian dari semangat menghadapi bencana secara bersama-sama. Di tengah kehilangan dan ketidakpastian, dukungan moral menjadi penting agar masyarakat maupun aparat tidak merasa menghadapi situasi tersebut seorang diri.
Dari lingkungan personel kepolisian hingga masyarakat yang terdampak, pesan yang dibawa dalam kunjungan itu tetap sama: saling menguatkan, menjaga keteguhan, dan bangkit bersama untuk menata kembali kehidupan setelah bencana.












