Ahmad Riyadh Dorong Media SMSI Bangun Ekosistem Ekonomi Berbasis Potensi Desa

  • Bagikan
IMG 20260828 WA0021

JAKARTA — Media massa, khususnya media siber yang tergabung dalam Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), dinilai memiliki posisi strategis dalam mempertemukan potensi ekonomi desa dengan arus modal, pasar, teknologi, dan informasi yang lebih luas.

Media tidak lagi cukup ditempatkan semata sebagai penyampai informasi. Di tengah perubahan ekonomi digital, media dituntut mampu membangun konektivitas antara masyarakat desa, dunia usaha, investor, teknologi, dan pasar sehingga potensi ekonomi lokal dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.

Pandangan tersebut disampaikan Assoc. Prof. Ahmad Riyadh UB, Ph.D., dalam Dialog Nasional yang digelar seusai Pengukuhan Pokja News Room Jaga Desa SMSI Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan di Hall Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Dewan Pembina Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas) Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat, serta Ketua Umum SMSI Pusat Firdaus.

Dialog menghadirkan dua pembicara, yakni Ahmad Riyadh selaku Ketua Dewan Penasihat SMSI Jawa Timur dan Yosep Kardinal, pakar perbankan. Diskusi dipandu Prof. Dr. Taufikur Rohman.

Dalam paparannya, Riyadh menekankan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak seharusnya hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk atau jumlah tenaga kerja yang terserap.

Menurut dia, ukuran yang jauh lebih substantif adalah kemampuan investasi tersebut menciptakan lapangan kerja, menggerakkan aktivitas ekonomi, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Keberhasilan di bidang ekonomi bukan hanya berapa besar investasi yang masuk, berapa tenaga kerja, dan berapa orang yang bekerja. Yang harus dilihat adalah berapa banyak lapangan pekerjaan dan ekonomi yang tumbuh serta sejauh mana kesejahteraan masyarakat desa meningkat,” kata Riyadh.

Ia melihat desa memiliki sumber daya ekonomi yang besar, mulai dari pariwisata, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga berbagai komoditas serta potensi lokal yang selama ini belum seluruhnya terhubung dengan pasar yang lebih luas.

Karena itu, desa, menurut Riyadh, tidak boleh hanya ditempatkan sebagai konsumen atau pasar bagi produk yang datang dari luar. Masyarakat desa harus didorong menjadi pelaku utama sekaligus pemimpin dalam ekosistem ekonomi di wilayahnya.

“Desa bukan hanya sekadar pasar. Desa harus menjadi penggerak dan pemimpin ekonomi dengan membangun sebuah ekosistem yang menghubungkan modal, informasi, teknologi, pasar, dan masyarakat,” ujarnya.

Riyadh menilai persoalan ekonomi desa tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah modal. Akses pembiayaan memang penting, tetapi modal tanpa pasar, teknologi, informasi, dan kepercayaan tidak serta-merta mampu mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi.

“Dari dulu kita selalu mengatakan desa kurang modal. Bukan hanya modal yang diperlukan. Selain modal itu ada pasar, teknologi, informasi, dan kepercayaan. Yang bisa mempertemukan semua elemen itu adalah media. Karena itu, pembentukan Pokja News Room Jaga Desa oleh SMSI ini sangat penting,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, media memiliki peluang untuk menjalankan fungsi yang lebih strategis. Media dapat memperkenalkan potensi desa, mengangkat produk dan pelaku usaha lokal, menyebarkan informasi mengenai peluang investasi, sekaligus mempertemukan produk desa dengan konsumen dan pasar yang lebih luas.

“Bagaimana modal, pasar, teknologi, informasi, dan kepercayaan bisa diperoleh? Yang mempertaruhkan itu adalah media. Media memiliki kemampuan untuk memperkenalkan semuanya, mulai produksi sampai ke pasar,” tuturnya.

Dengan demikian, pemberitaan mengenai desa tidak berhenti pada publikasi kegiatan pemerintahan atau peristiwa sosial. Informasi dapat dikembangkan menjadi pintu masuk bagi terbentuknya jejaring ekonomi baru yang menghubungkan desa dengan berbagai pemangku kepentingan.

Riyadh juga mendorong perusahaan media untuk mulai melihat perubahan model bisnis di tengah perkembangan teknologi dan pergeseran perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.

Media, kata dia, tidak cukup hanya berpikir bagaimana menghasilkan berita, tetapi juga perlu memahami bagaimana informasi dapat menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas.

“Jangan hanya berpikir bagaimana membuat berita. Media harus berpikir tentang ekonomi, termasuk bagaimana berita mengenai ekonomi bisa memberikan dampak ekonomi,” katanya.

Ia menggambarkan informasi sebagai bagian dari rantai ekonomi yang saling terhubung. Informasi yang akurat dan relevan dapat membuka peluang transaksi. Aktivitas transaksi kemudian menciptakan pendapatan, membuka lapangan pekerjaan, memperkuat kepercayaan, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan.

Karena itu, media dituntut membangun ekosistem informasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu memperkuat daya saing masyarakat dan pelaku ekonomi di tingkat desa.

“Berita itu penting, tetapi bagaimana mengelola informasi, transformasi, transparansi, potensi desa, UMKM, investasi, dan mengikuti kebutuhan masyarakat juga penting,” ujar Riyadh.

Perubahan lanskap media juga tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Riyadh mengingatkan insan media agar tidak menutup diri terhadap teknologi tersebut. Menurut dia, AI dapat menjadi alat bantu yang mempercepat berbagai proses produksi konten, mulai dari penulisan berita, penyusunan naskah, hingga pembuatan video dan beragam produk digital.

Namun, ia menegaskan bahwa kemudahan teknologi tidak boleh menghilangkan tanggung jawab manusia terhadap kebenaran sebuah informasi.

“Jangan menutup diri terhadap AI karena teknologi itu sudah membantu manusia. AI bisa membantu membuat berita, tulisan, video, dan berbagai macam konten. Tetapi tetap ingat, AI hanya membantu. Kebenarannya tetap menjadi tanggung jawab manusia yang menggunakan AI,” tegas Riyadh, yang juga menjabat sebagai Exco (Executive Committee) PSSI.

Karena itu, setiap informasi yang diproduksi dengan bantuan AI tetap harus melalui proses pemeriksaan, verifikasi, penyuntingan, dan penilaian manusia agar memenuhi prinsip akurasi, kebenaran, serta keadilan jurnalistik.

Selain informasi dan teknologi, Riyadh menempatkan kepastian hukum sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi dan investasi di desa.

Investor, menurut dia, membutuhkan lingkungan usaha yang memberikan kepastian. Pada saat yang sama, keterbukaan informasi serta konektivitas data dan teknologi harus dibangun secara transparan.

“Investor harus memiliki kepastian hukum. Kemudian harus ada keterbukaan informasi, serta data dan teknologi yang terkoneksi,” katanya.

Keterbukaan tersebut dinilai dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih sehat karena setiap pihak memiliki akses terhadap informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan.

Dalam kerangka tersebut, AI dapat membantu menyediakan akses terhadap berbagai model, pengetahuan, dan teknologi. Sementara itu, media dan perusahaan rintisan media dapat berperan dalam menyediakan informasi, membangun konektivitas, serta mengangkat potensi ekonomi desa ke ruang publik yang lebih luas.

Data mengenai potensi desa juga dapat dikembangkan menjadi konten yang memperkenalkan produk, sumber daya, destinasi wisata, UMKM, hingga para pelaku ekonomi lokal.

Pendekatan tersebut pada akhirnya diharapkan mengubah posisi desa dalam rantai ekonomi. Desa tidak lagi sekadar menjadi tempat pemasaran produk dari luar, melainkan berkembang sebagai pusat produksi, inovasi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.

“Kalau desa menjadi pemain, akhirnya masyarakat menjadi sejahtera. Kekuatan ekonomi juga akan tumbuh dari desa,” pungkas Riyadh.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *