Bojonegoro, Jumat (1/5/2026) — Insiden kecelakaan kerja di halaman MTsN 1 Bojonegoro kembali memunculkan sorotan tajam terhadap pelaksanaan proyek perbaikan dan perawatan gedung sekolah yang bersumber dari program bantuan pemerintah pusat.
Seperti diketahui, kegiatan proyek yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut merupakan bagian dari program bantuan Presiden untuk peningkatan sarana dan prasarana pendidikan yang mengacu pada kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas infrastruktur pendidikan agar lebih layak, aman, dan mendukung proses belajar mengajar.
Namun, insiden yang menyebabkan tujuh siswa terluka setelah tertabrak kendaraan proyek memunculkan pertanyaan serius terkait implementasi standar keselamatan kerja di lapangan. Keberadaan alat berat dan kendaraan proyek di area yang masih aktif digunakan siswa dinilai bertentangan dengan prinsip dasar keselamatan dalam lingkungan pendidikan.
Dalam pedoman pelaksanaan proyek pendidikan yang dirilis pemerintah, aspek keamanan dan keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama. Setiap kegiatan pembangunan atau rehabilitasi seharusnya dilengkapi dengan pembatas area kerja, pengaturan jalur kendaraan, serta pengawasan ketat guna mencegah risiko kecelakaan.
Fakta di lapangan menunjukkan adanya celah dalam pengawasan, baik dari pihak pelaksana proyek maupun manajemen sekolah. Aktivitas siswa yang masih berlangsung berdekatan dengan area proyek menjadi indikasi bahwa pengendalian risiko belum berjalan optimal.
Sejumlah kalangan menilai, tanggung jawab pengawasan tidak hanya berada pada kontraktor, tetapi juga pihak sekolah sebagai pengelola lingkungan pendidikan. Koordinasi yang lemah berpotensi membuka ruang terjadinya kecelakaan seperti yang terjadi saat ini.
Selain itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek yang sedang berjalan, termasuk meninjau ulang kepatuhan terhadap standar operasional prosedur keselamatan kerja.
Pihak kepolisian juga diharapkan mendalami aspek teknis pelaksanaan proyek, termasuk kemungkinan adanya kelalaian dalam pengoperasian kendaraan proyek di area sekolah.
Insiden ini menjadi pengingat penting bahwa pembangunan fasilitas pendidikan tidak boleh mengabaikan keselamatan. Tujuan meningkatkan kualitas gedung sekolah tidak seharusnya dibayar dengan risiko terhadap keselamatan peserta didik.
Informasi terkait kejadian ini masih terus berkembang dan menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang.












