Sragen, 4 Mei 2026 — Perubahan signifikan tengah berlangsung di sebuah sudut Desa Puro, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen. Di tengah aktivitas gotong royong yang terus bergulir, kebahagiaan sederhana namun mendalam terpancar dari wajah Dirto Martono (65), seorang warga lanjut usia yang selama bertahun-tahun menghuni rumah dalam kondisi serba terbatas.
Kini, rumah yang dahulu kusam dan nyaris tak layak huni itu telah memasuki tahap akhir pembangunan. Dinding yang sebelumnya rapuh telah berdiri kokoh, atap yang dulu bocor kini tertata rapi, dan sentuhan akhir berupa pengecatan mulai memperindah tampilan hunian tersebut. Transformasi ini merupakan bagian dari program Rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dalam kegiatan TMMD Reguler ke-128 yang dilaksanakan oleh Kodim 0725/Sragen.
Di lokasi pembangunan, suasana kebersamaan begitu terasa. Personel Satgas TMMD bersama warga setempat bekerja secara terpadu, menyelesaikan setiap tahapan pembangunan dengan penuh ketelitian. Proses pengecatan yang kini tengah berlangsung menjadi simbol mendekatnya penyelesaian proyek sekaligus penanda perubahan besar dalam kehidupan sang pemilik rumah.
Dirto Martono, yang akrab disapa Mbah Dirto, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang diterimanya. Baginya, perubahan ini bukan sekadar perbaikan fisik bangunan, melainkan awal dari kehidupan yang lebih layak dan bermartabat.
Rumah saya dulu sangat sederhana dan banyak bagian yang rusak. Sekarang sudah rapi, bersih, bahkan sudah mulai dicat. Saya tidak pernah membayangkan bisa seperti ini,” tuturnya lirih namun penuh kebahagiaan.
Pihak Satgas TMMD menegaskan bahwa tahap pengecatan merupakan bagian krusial dalam penyelesaian program RTLH. Selain memberikan nilai estetika, proses ini juga berfungsi melindungi bangunan serta menciptakan suasana hunian yang lebih nyaman dan sehat.
Program RTLH sendiri menjadi salah satu fokus utama dalam TMMD Reguler ke-128, yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat berpenghasilan rendah melalui penyediaan tempat tinggal yang layak. Lebih dari sekadar pembangunan fisik, program ini juga mencerminkan semangat kolaborasi antara aparat dan masyarakat dalam membangun desa secara berkelanjutan.
Dengan progres yang terus menunjukkan perkembangan positif, diharapkan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu. Rumah yang telah diperbaiki nantinya tidak hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga simbol harapan baru bagi penghuninya.
Kisah Mbah Dirto menjadi gambaran nyata bahwa kehadiran program TMMD mampu menghadirkan perubahan yang menyentuh sisi kemanusiaan. Di balik setiap dinding yang dicat dan atap yang terpasang, tersimpan cerita tentang kepedulian, kebersamaan, dan harapan yang kembali tumbuh di tengah masyarakat.












