Hadapi Krisis Sampah, Kodim 0735/Surakarta Dorong Transformasi Pengelolaan dari Hulu ke Hilir

  • Bagikan
IMG 20260423 WA0044

Surakarta — Tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah perkotaan kian nyata di Surakarta, seiring meningkatnya volume limbah harian yang melampaui kapasitas ideal Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo. Kondisi overload ini tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga mencerminkan urgensi reformasi tata kelola lingkungan secara menyeluruh.

Data riset lingkungan menunjukkan bahwa komposisi sampah di kota ini didominasi oleh limbah organik, berkisar antara 60 hingga 70 persen. Sisanya merupakan sampah anorganik seperti plastik dan kertas yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak ditangani secara tepat. Dalam situasi tersebut, pendekatan konvensional yang bertumpu pada pembuangan akhir dinilai tidak lagi memadai.

Menanggapi tantangan ini, Komando Distrik Militer (Kodim) 0735/Surakarta mengambil peran strategis melalui pendekatan integratif yang menghubungkan edukasi masyarakat dengan inovasi pengolahan sampah. Langkah ini menjadi bagian dari pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), yang menempatkan TNI sebagai elemen pendukung dalam mengatasi persoalan sosial dan lingkungan.

Komandan Kodim 0735/Surakarta, Letkol Inf Arief Handoko Usman, menegaskan bahwa intervensi yang dilakukan tidak bersifat parsial, melainkan menyasar seluruh rantai pengelolaan sampah. Edukasi kepada masyarakat menjadi titik awal yang krusial, dengan menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Pendekatan kami dimulai dari hulu, yaitu rumah tangga. Pemilahan antara sampah organik dan anorganik merupakan fondasi utama untuk meningkatkan efektivitas pengolahan sekaligus mengurangi beban TPA,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (23/04/2026).

Dalam implementasinya, Kodim menggandeng berbagai elemen masyarakat, mulai dari tingkat RT/RW hingga komunitas lingkungan. Pendekatan komunikatif dan partisipatif diterapkan guna membangun kesadaran kolektif sekaligus mengubah perilaku masyarakat terhadap sampah.

Untuk sampah anorganik, strategi diarahkan pada penguatan sistem bank sampah. Melalui mekanisme ini, masyarakat tidak hanya berkontribusi dalam pengurangan limbah, tetapi juga memperoleh nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan. Skema ini dinilai efektif dalam mendorong terbentuknya ekonomi sirkular berbasis komunitas.

Sementara itu, pengelolaan sampah organik difokuskan pada fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) Mojosongo. Di lokasi ini, limbah organik diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti kompos, maggot (larva Black Soldier Fly), kasgot, serta pupuk cair organik. Proses ini tidak hanya mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di sektor pertanian dan usaha mikro.

Langkah integratif yang diusung Kodim 0735/Surakarta sejalan dengan arah kebijakan nasional yang menempatkan pengelolaan sampah sebagai isu strategis. Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa persoalan sampah tidak sekadar berkaitan dengan kebersihan lingkungan, melainkan juga menyangkut ketahanan nasional dan kesehatan publik.

Pendekatan lintas sektoral yang melibatkan TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai sebagai model kolaboratif yang adaptif terhadap kompleksitas masalah perkotaan. Dengan mengintegrasikan pemilahan di hulu dan inovasi pengolahan di hilir, Surakarta berupaya mengurai persoalan sampah secara bertahap namun berkelanjutan.

Lebih dari sekadar solusi teknis, inisiatif ini membawa pesan transformasional, bahwa sampah, dengan pengelolaan yang tepat, dapat beralih dari beban menjadi sumber daya. Kesadaran kolektif masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan kota yang bersih, sehat, dan berdaya tahan lingkungan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *