Modal Besar, Harapan Lebih Besar, Petani Kemusu Bertahan di Musim Tanam Ketiga

  • Bagikan
IMG 20260912 WA0033

BOYOLALI — Musim tanam ketiga (MT III) menjadi ujian tersendiri bagi petani di wilayah Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali. Ketika ketersediaan air mulai terbatas, keputusan untuk kembali menanam padi bukan sekadar persoalan kesiapan lahan, tetapi juga keberanian menanggung biaya produksi yang lebih besar.

Kondisi itu dirasakan Yatmin, petani di Dukuh Rejosari RT 03/RW 03, Desa Kedungmulyo. Untuk mempertahankan tanaman padinya pada MT III, ia harus mengandalkan sumber air dari sumur dalam karena pasokan air untuk persawahan tidak semudah pada musim tanam sebelumnya.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Babinsa Desa Kedungmulyo Koramil 18/Kemusu Kodim 0724/Boyolali, Sertu Muhammad Al Amin, saat melaksanakan komunikasi sosial (Komsos) bersama Yatmin di areal persawahan, Sabtu (12/9/2026).

Di tengah hamparan tanaman padi, keduanya berbincang mengenai kondisi tanaman sekaligus berbagai tantangan yang dihadapi petani dalam menjaga produktivitas lahan. Bagi Yatmin, MT III menuntut perhitungan yang lebih cermat karena kebutuhan pengairan harus dipenuhi secara mandiri.

Penggunaan sumur dalam membuat ongkos produksi meningkat. Selain biaya pengolahan lahan, benih, pupuk, dan perawatan tanaman, petani juga harus menyediakan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air selama masa pertumbuhan padi.

Namun, besarnya modal yang harus dikeluarkan tidak serta-merta membuat Yatmin menghentikan aktivitas bercocok tanam. Ia memilih tetap mengolah sawah dengan harapan hasil panen mampu menutup biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan.

Harapan terbesar kini tertuju pada harga jual gabah saat panen nanti. Yatmin berharap hasil produksi MT III dapat dihargai lebih baik dibandingkan hasil panen pada musim tanam pertama maupun kedua. Harga yang menguntungkan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha tani di tengah meningkatnya biaya produksi.

Bagi petani, keberanian menanam pada MT III merupakan bentuk optimisme sekaligus upaya mempertahankan produktivitas lahan. Ketika air menjadi faktor pembatas, setiap keputusan produksi harus diimbangi dengan perhitungan biaya, ketersediaan sumber daya, serta prospek harga hasil panen.

Sertu Muhammad Al Amin mengatakan, kegiatan Komsos bersama petani dilakukan untuk mengetahui secara langsung kondisi dan persoalan yang dihadapi masyarakat di wilayah binaannya. Pendekatan tersebut, menurutnya, penting agar pendampingan kepada petani tidak berhenti pada komunikasi formal, tetapi menyentuh persoalan nyata di lapangan.

“Petani harus tetap optimistis. Meski MT III membutuhkan biaya dan usaha lebih besar, semoga hasil panen nantinya baik dan harga jualnya mampu memberikan keuntungan bagi petani,” ujar Sertu Muhammad Al Amin.

Kehadiran Babinsa di tengah aktivitas petani sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kedekatan TNI dengan masyarakat. Dalam konteks pertanian, pendampingan tersebut diharapkan dapat menjadi dukungan moral bagi petani yang tetap bekerja mengolah lahan meski menghadapi tantangan keterbatasan air dan meningkatnya biaya produksi.

Di balik hamparan padi yang tumbuh pada MT III, terdapat kalkulasi panjang yang harus ditanggung petani. Modal yang lebih besar memang menjadi risiko, tetapi harapan terhadap panen yang baik dan harga yang layak membuat mereka memilih untuk tetap bertahan.

Bagi Yatmin dan petani lainnya, menanam pada musim ketiga bukan semata soal mengejar hasil panen. Itu juga merupakan ikhtiar untuk menjaga sawah tetap produktif dan memastikan roda kehidupan pertanian terus berjalan, meski setiap tetes air harus dibayar dengan biaya dan tenaga yang tidak sedikit.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *