Antisipasi Risiko Iklim, Bojonegoro Siapkan Benih Unggul untuk Dongkrak Produktivitas Tembakau

  • Bagikan
Xit20gdaFfUIC5Yt

BOJONEGORO — Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) mengambil langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan sektor tembakau sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Upaya tersebut diwujudkan melalui penyediaan benih tembakau bersertifikat dan berlabel resmi yang telah melalui serangkaian pengujian mutu ketat, guna memastikan produktivitas dan kualitas hasil panen petani tetap terjaga.

Program penyediaan benih unggul tersebut mendapat respons positif dari kalangan petani. Tingginya tingkat penyerapan benih menunjukkan meningkatnya kepercayaan petani terhadap kualitas benih yang disalurkan pemerintah, sekaligus mencerminkan optimisme menghadapi musim tanam tahun 2026.

Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkoordinator Tanaman Perkebunan DKPP Bojonegoro, Bambang Wahyudi, menjelaskan bahwa seluruh varietas yang disediakan telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar industri tembakau, baik di tingkat lokal maupun nasional. Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus meningkatkan daya saing hasil produksi Bojonegoro.

Menurut Bambang, setiap varietas yang didistribusikan telah melalui proses pengujian laboratorium secara berkala, terutama untuk memastikan tingkat daya kecambah benih tetap berada pada standar optimal.

“Kami melakukan pengujian daya kecambah setiap enam bulan sekali di laboratorium. Keberhasilan budidaya sejak tahap awal menjadi perhatian utama, sehingga varietas yang kami distribusikan merupakan varietas yang telah terbukti sesuai dengan kebutuhan industri dan kondisi lahan di Bojonegoro,” ujarnya.

Hingga akhir Mei 2026, realisasi penyaluran benih menunjukkan perkembangan yang signifikan. Dari total ketersediaan stok sekitar 14,5 kilogram yang berasal dari sisa cadangan tahun sebelumnya serta pengadaan baru, sebanyak 8,743 kilogram telah diserap oleh berbagai kelompok tani di sejumlah wilayah.

Varietas Python 4 yang berasal dari Probolinggo menjadi salah satu jenis benih yang paling diminati. Seluruh kuota sebanyak 3,5 kilogram habis terserap petani dalam waktu relatif singkat. Tingginya minat tersebut tidak terlepas dari reputasi varietas tersebut yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta permintaan pasar yang kuat.

Sementara itu, varietas K326 yang selama ini dikenal sebagai salah satu varietas unggulan juga mengalami tingkat penyerapan yang tinggi. Dari stok awal 2,03 kilogram, kini hanya tersisa sekitar 460 gram.

Adapun stok yang masih tersedia saat ini diperkirakan sekitar lima kilogram dan didominasi varietas Jawa, seperti Rejep Gagang Sidi, Grompol Jatim, Kasturi 2, dan Jinten Pak Pie. Varietas-varietas tersebut umumnya banyak dibudidayakan di wilayah Temayang, Bubulan, Purwosari, dan Tambakrejo yang memiliki karakteristik lahan sesuai dengan kebutuhan tanaman.

DKPP juga menyiapkan stok tersebut untuk mengantisipasi permintaan dari sejumlah sentra tembakau lainnya seperti Kepohbaru, Kedungadem, Baureno, dan Sukosewu. Sebagian petani di wilayah tersebut masih menunda pengambilan benih karena tengah menyelesaikan panen komoditas sebelumnya sebelum memulai proses persemaian.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menargetkan peningkatan luas tanam tembakau pada musim tanam tahun 2026. Luasan budidaya diproyeksikan mendekati 16.000 hektare atau meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang berada di kisaran lebih dari 15.000 hektare.

Perluasan area budidaya ini menunjukkan bahwa sektor tembakau masih menjadi salah satu penopang penting perekonomian pertanian daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, penyebaran tanaman tembakau terus berkembang ke berbagai kecamatan.

Data DKPP mencatat, dari total 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, sebanyak 26 kecamatan kini aktif melakukan budidaya tembakau. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode 2023–2024 yang hanya mencakup 22 kecamatan. Hingga saat ini, Kecamatan Bojonegoro Kota dan Kecamatan Kapas menjadi dua wilayah yang belum melaporkan aktivitas penanaman tembakau secara massal.

Untuk mendukung keberhasilan budidaya, DKPP menerapkan skema bantuan benih yang dirancang dengan mempertimbangkan faktor keamanan produksi. Setiap hektare lahan mendapatkan alokasi bantuan benih sebanyak 10 gram.

Meskipun kebutuhan riil petani umumnya hanya berkisar antara 6 hingga 8 gram per hektare, pemerintah sengaja memberikan tambahan cadangan sebagai langkah antisipasi apabila terjadi kegagalan persemaian.

Dari 10 gram benih tersebut, petani berpotensi menghasilkan sekitar 18.000 hingga 20.000 bibit siap tanam. Kelebihan alokasi benih diharapkan mampu mengurangi risiko kerugian apabila sebagian bibit tidak tumbuh optimal pada tahap awal budidaya.

Di tengah meningkatnya optimisme petani, DKPP mengingatkan adanya tantangan iklim yang perlu diwaspadai pada musim tanam tahun ini. Fenomena kemarau basah yang ditandai dengan curah hujan relatif tinggi pada sore hingga malam hari berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman tembakau, khususnya pada fase awal setelah pindah tanam.

Tanaman tembakau yang baru dipindahkan ke lahan terbuka sangat rentan terhadap genangan air. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian tanaman sehingga petani harus melakukan penyulaman atau penanaman ulang.

Pada beberapa musim sebelumnya, petani bahkan tercatat harus melakukan tanam ulang hingga lima sampai tujuh kali akibat tingginya intensitas hujan. Situasi ini berdampak langsung pada meningkatnya biaya tenaga kerja dan operasional budidaya.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, DKPP mengimbau petani agar terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG. Selain itu, petani juga didorong memperbaiki tata kelola lahan dengan membuat bedengan yang lebih tinggi serta mengoptimalkan sistem drainase agar air hujan dapat mengalir dengan baik dan tidak merusak perakaran tanaman.

Melalui kombinasi penyediaan benih unggul, perluasan areal tanam, serta penguatan mitigasi terhadap risiko iklim, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap produktivitas tembakau pada tahun 2026 dapat meningkat sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu sentra produksi tembakau penting di Indonesia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *