NGAWI — Upaya mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji yang inklusif dan berorientasi pada kebutuhan seluruh jemaah menjadi fokus pembahasan dalam program talkshow radio “Ngobrol Santai Info Haji dari Mekkah” edisi Selasa (26/5/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema pelayanan haji ramah lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan sebagai bagian dari komitmen peningkatan kualitas layanan bagi jemaah Indonesia di Tanah Suci.
Talkshow menghadirkan Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Jabal Noor, Mudrik Al Farizi, serta Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Masun Azali Amrullah. Keduanya mengulas berbagai aspek pelayanan yang dirancang untuk memastikan seluruh jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan aman, nyaman, dan sesuai kebutuhan masing-masing.
Dalam pemaparannya, Mudrik Al Farizi menjelaskan bahwa penyelenggaraan ibadah haji dari tahun ke tahun terus mengalami penyempurnaan, terutama dalam aspek pendampingan dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan ibadah tidak hanya ditentukan oleh kesiapan fasilitas di Tanah Suci, tetapi juga oleh pembekalan yang diberikan kepada calon jemaah sejak sebelum keberangkatan.
Ia menuturkan bahwa proses pendampingan telah dimulai sejak masa manasik haji melalui berbagai kegiatan edukasi yang mencakup kesiapan fisik, penguatan mental, hingga pemahaman teknis mengenai tahapan dan alur ibadah. Langkah tersebut dinilai penting agar jemaah memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi berbagai situasi selama berada di Mekkah dan Madinah.
“Pendampingan sejak manasik penting agar jemaah lebih mandiri dan tenang selama berada di Mekkah maupun Madinah,” ujar Mudrik.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pendekatan pelayanan yang humanis menjadi kebutuhan utama dalam penyelenggaraan ibadah haji modern. Dengan karakteristik jemaah yang beragam, termasuk mereka yang berusia lanjut dan memiliki keterbatasan fisik, sistem pelayanan harus mampu memberikan dukungan yang tepat tanpa mengurangi kemandirian jemaah dalam menjalankan ibadah.
Sementara itu, Masun Azali Amrullah menyampaikan bahwa pemerintah terus melakukan berbagai upaya peningkatan kualitas layanan haji guna menjawab kebutuhan jemaah yang semakin kompleks. Perbaikan dilakukan pada berbagai sektor, mulai dari transportasi, akomodasi, layanan kesehatan, hingga penyediaan fasilitas yang mendukung aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Menurutnya, perhatian terhadap kelompok lansia menjadi salah satu prioritas penting dalam penyelenggaraan haji saat ini. Pendampingan kesehatan yang lebih intensif, kemudahan mobilitas, serta penguatan sistem layanan darurat menjadi bagian dari strategi untuk memastikan jemaah lanjut usia dapat menjalankan ibadah secara optimal.
Selain itu, kebutuhan jemaah perempuan juga mendapat perhatian khusus. Berbagai kebijakan dan fasilitas pendukung terus dikembangkan agar perempuan dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan rasa aman, nyaman, dan terlindungi selama berada di Tanah Suci.
“Perhatian terhadap kebutuhan perempuan juga menjadi bagian penting agar jemaah dapat menjalankan ibadah dengan nyaman dan aman,” kata Masun.
Pembahasan dalam talkshow tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pelayanan haji yang inklusif. Konsep pelayanan yang ramah terhadap lansia, disabilitas, dan perempuan dinilai tidak hanya meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah, tetapi juga mencerminkan komitmen untuk memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh jemaah dalam menunaikan rukun Islam kelima.
Melalui peningkatan kualitas layanan yang berkelanjutan, diharapkan setiap jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan lebih tenang, aman, dan khusyuk. Pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pelayanan yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan jemaah juga diharapkan semakin meningkat, sehingga pelaksanaan ibadah haji dapat menjadi pengalaman spiritual yang lebih bermakna bagi seluruh peserta.












